#kupastuntas18


Pandangan Umum atas Masa Kepemimpinan Yazid bin Muawiyah


#kupastuntas18


Inilah beberapa kejadian penting pada masa Yazid, kami telah menceritakannya dari sumber-sumber yang paling benar, kami uraikan berdasarkan apa yang kami yakini bahwa itulah yang benar atau mendekati kebenaran.


Maka apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian tadi? 

Apakah kita bisa mengetahui siapa yang benar di antara mereka? 

Dan siapakah yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut? 

Kejadian tersebut merupakan fitnah yang cukup menakutkan dan patut disayangkan, maka harus kita cari siapakah yang bertanggung jawab. Bukan karena sejarah ingin menghukuminya, akan tetapi supaya jelas bagaimana sebenarnya sejarah yang ada, apa penyebab dan motif kejadiannya?


Sesungguhnya yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut terangkum dalam tiga hal; tanggung jawab pertama dibebankan kepada sistem yang berlaku pada masa Yazid. Yaitu sistem yang diletakkan oleh Muawiyah dengan anggapan bahwa itulah sistem yang bagus dan ideal. Sebuah sistem yang memberi kelonggaran kepada pegawai pemerintah dan komandan militer untuk mengambil keputusan. Dengan ini mereka bekerja semaunya, bahkan kadang tidak mematuhi perintah khalifah jika ia melihat maslahat di dalamnya.


Kebebasan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan komandan militer inilah yang mereka gunakan pada tiga peristiwa. Telah kami ungkapkan bahwa Yazid memerintahkan Ubaidillah bin Ziyad, ketika Husain keluar dari Makkah menuju Kufah, memerintahkan untuk tidak memerangi seseorang pun kecuali yang memulai terlebih dahulu. Dan telah kita ketahui bahwa Husain bukanlah orang yang pertama kali memulai peperangan dengan tentara Ubaidillah, tetapi tentara Ubaidillah yang memulainya, seharusnya lbnu Ziyad tidak menyerangnya, tapi ia melakukannya, sedangkan Husain bermaksud menemui Yazid tapi dicegah olehnya. telah kita lihat juga bahwa Yazid memerintahkan Muslim Bin Uqbah, jika telah tampak penduduk Madinah dan mereka membunuh salah satu keluarga Umayyah, maka perangilah semuanya, yang maju atau yang mundur dan menggarong harta penduduk Madinah selama tiga hari. Sedangkan pada waktu itu penduduk Madinah tidak membunuh satu pun dari keluarga Umayyah. Seharusnya Muslim tidak menebaskan pedangnya kepada tawanan perang seperti yang ia lakukan, seharusnya pula ia tidak menghalalkan Madinah selama tiga hari.


Begitulah Muslim bin Uqbah keluardari perintahYazid. Jadi bukannya Yazid yang memerintahkan pertumpahan darah. Perlu kita katakan juga, bahwa tentara Syam sendiri sangat patuh kepada komandan dalam kebengisannya, mereka sadis dalam peristiwa Karbala, Al-Harrah dan Makkah. Sistem ini menjadi bumerang bagi keluarnya Husain, pembangkangan penduduk Madinah dan Ibnu Zubair, karena peristiwa ini bermakud untuk mengembalikan sistem pemerintahan kepada asalnya, yaitu sistem Syura dan kekuasaan Hijaz. Jadi, malah sistem Umayah sendiri yang dibela dan mereka telah melakukannya dengan kekerasan dan kebengisan. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa ketiga peristiwa tersebut merupakan persengketaan dua sistem, sebagaimana menunjukkan pertikaian antara penduduk Syam di satu segi dan penduduk Irak dan Hijaz pada lain segi. Maka salah satu yang bertanggung jawab atas peristiwa mengenaskan tersebut adalah sistem yang berlaku.


Tanggung jawab kedua dipikul oleh Yazid sendiri karena dialah pemimpin pemerintahan dan yang bertanggung jawab atasnya. Mari kita lihat sampai dimana tanggung jawabnya atas peristiwa yang kami sebutkan tadi?


Pertama; Yazid tidak mampu mengatasi konflik dengan baik. Benar, ia telah memberikan perintah kepada menterinya, akan tetapi perintah tersebut sangat global dan belum dipelajari perinciannya. Tidak terdapat di dalamnya kesatuan perencanaan yang jelas, sedangkan dalam banyak hal, suatu masalah tidak dapat terpecahkan kecuali dengan perencanaan matang dan sarana yang memadai. Maka ketika perinciannya diserahkan kepada komandan militer yang terjadi adalah perencanaan yang hanya berdasarkan strategi perang, keadaan ini kadang menjerumuskannya kepada hal yang tidak diinginkan dan tidak terpikirkan sama sekali. Inilah yang dilakukan Yazid, ia menyerahkan keputusan penting kepada panglima perangnya, maka terjadilah hal yang mungkin tidak diinginkannya.


Kedua; Yazid tidak mau menganalisa persoalan secara mendetail, tapi ia cukupkan dengan memberi perintah global,lalu menunggu hasil, ia tidak mau mempelajarinya, ia tak mau mengetahui darimana asalnya, ia tidak memerintahkan suruhannya untuk menjelaskan persoalan secara terperinci, maka ia tak mau terjun langsung menangani persoalan, lalu terkejutlah ia ketika terjadi peristiwa yang tak diinginkan.


Ketiga; ia banyak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu hal tanpapemikiran dan pertimbangan yang matang. Ketika terjadi konflik, maka ia gunakan pedang untuk mengatasinya. Ia lebih sebagai prajurit perang daripada seorang politikus.


Keempat; ia tidak pandai berdiplomasi, Ia tidak lihai meluluhkan hati musuh dan menaklukkan perasaannya. Benar, ia banyak memberi harta kepada penduduk Madinah tapi ia tak mampu memberi kebijaksanaan atasnya. Ia mengira bahwa harta sudah cukup untuk meneguhkan kekuasaannya di Madinah. Maka para utusan tidak terluluhkan hatinya dan tidak bersimpati dengannya. Ia tak mampu membuat penduduk Madinah merasa bahwa ia sangat mencintainya, bahkan kadang tersingkap kejelekan dan kecerobohannya di hadapan para utusan, maka hasilnya seperti yang kami katakan, ia banyak meletakkan sesuatu tidak pas pada tempatnya.


Kesalahan politik yang dilakukannya sangatlah jelas, jika tidak melakukan kesalahan-kesalahan ini, maka ia akan dapat menghindari apa yang terjadi pada masanya. Berbeda dengan ayahnya, Muawiyah, ia mampu menunda terjadinya fitnah, bahkan memadamkannya sejak dini. Pada masa Muawiyah, sistem yang dipakai sama seperti pada masa Yazid, walaupun demikian ia dapat mengatasi setiap problem dengan mudah, itu karena Muawiyah bersikap kebalikannya Yazid, Muawiyah sudi menganalisa persoalan secara mendetail, tidak menghadapi persoalan kecuali dengan sungguh-sungguh. Ia meletakkan perencanaan terperinci pada setiap daerah kekuasaannya dan memantau terus apa yang terjadi, ia tidak menghiraukan persoalan jika memang persoalan tersebut tidak perlu dihiraukan. Ia selalu meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya, ia mewariskan sistem ini kepada anaknya, sedangkan seharusnya ia sama seperti ayahnya. Apa yang berhasil dilakukan Muawiyah tak mampu dilakukan oleh Yazid. Itu karena keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam tabiat dan perangainya.


Kesalahan Yazid bermula dari pendidikan dan tabiatnya, ia tumbuh di kalangan istana, hidup dalam kesenangan dan kemanjaan, ia bergaul dengan pemuda-pemuda penjilat, bergaul dengannya dalam kesenangan dan keterlenaan. Ia mulai minum arak, mungkin disebabkan kecerobohan pergaulan dengan pemuda semasanya. Sedangkan tabiatnya pada dasamya ia suka kehidupan bebas dan menikmati alam dengan pemandangannya yang indah. Dari sini ia suka berburu dan bermain-main sehingga kecerobohannya semakin bertambah.


Ayahnya, Muawiyah merupakan orang yang sibuk, ia sibuk mengurusi negara dan pemerintahannya, walaupun ia memperhatikan pertumbuhan anaknya, mengirimkannya pada setiap penaklukan, mewajibkannya hadir pada setiap rapat kenegaraan dan berpartisipasi dalam pengelolaan negara, tapi anaknya tidak dapat bekerja serius dan tidak mampu konsentrasi penuh dalam pekerjaannya.


Sifat utama Yazid adalah romantis, ia sangat perasa. Sifat ini tampak pada kecintaannya atas syair, perasaannya mudah tersinggung. Jika ia sedang menginginkan kesenangan dan permainan maka terhenyaklah perasaannya dan menjadi tak terkendali, bayangkanlah bahwa seorang penguasa yang punya perasaan tak terkendali, maka yang terjadi sama seperti apa yang dilakukan Yazid. Ketika diberitakan kepadanya suatu peristiwa, maka ia lihat dari sudut pandang perasaan, berkobarlah perasaannya, ia tidak melihat sesuatu dengan kacamata logika atau pertimbangan yang jernih. Ketika ia mendengar kabar bahwa Ibnu Zubair berlindung atas Ka'bah maka berkobarlah semangatnya, ia bersumpah akan mengalunginya dengan rantai, kemudian baru ia sadar bahwa Ibnu Zubair tidak akan mau menghadiri acara, tempat ia akan diikat. Lalu ditafsiri dengan rantai dirham dari perak untuk dikalungkan pada leher dan pakaiannya, ketika ia membaca surat dari keluarga Bani Umayyah yang minta pertolongan, ia langsung ingin mengirim tentara dan berkata dengan penuh semangat, "Tidak ada kebaikan dalam hidup setelah mereka." Ia lupa dan lalai bahwa ia adalah khalifah kaum muslimin.


Perasaannya bertambah menyala ketika didatangkan kepadanya kepala Husain, ia menangis tersedu dan bersedih, tapi dengan perasaan, bukan dengan akal dan logika.


Jadi perasaannya ini mengalahkan dirinya, maka menyesatkannya dan mengarahkannya pada keburukan. Itu semua karena ia tidak terdidik dan tumbuh dalam kemanjaan.

Seandainya ia terdidik baik dengan tekun, maka ia akan menjadi sosok lain, mungkin ini karena kesalahan Muawiyah yang kurang memperhatikan pertumbuhan anaknya dan tidak memberinya prinsip-prinsip yang diperlukan olehnya.


Jadi Yazid dihadapkan pada suatu sistem yang tidak sesuai dengan tabiat, perangai dan pendidikannya.


Tanggung jawab ketiga; jika memang Yazid ikut bertanggungjawab atas peristiwa di masanya, apakah yang bertikai dengannya ikut bertanggungjawab juga? Di sini kita sampai pada tanggung jawab ketiga, yaitu dipikul oleh para pembangkang Yazid. Di sini kami lihat bahwa pembangkang tersebut berperangai sama dengan Yazid, yaitu suka mengandalkan perasaan tanpa logika dan pertimbangan yang matang. Penduduk Kufah misalnya, mereka terlalu mencintai Husain sehingga mereka mengundangnya sedangkan mereka telah membaiat Yazid, mereka tidak menyembunyikan perasaannya kecuali ketika telah tiba saatnya, lalu sadar bahwa mereka dihadapkan pada balasan yang amat kejam.


Husain sendiri sama, terlalu mengandalkan perasaan, perasaan yang menggelora di dadanya membuatnya nekat pergi menuju Kufah walaupun bahaya menghadang. Banyak orang telah mengingatkannya bahwa ia sedang diancam bunuh. Logika mengatakan bahwa seharusnya ia tetap di Makkah atau pergi menuju Yaman. Tapi ia mengikuti perasaannya dan berangkat ke Kufah, maka terjadilah peristiwa yang mengenaskan tersebut.


Adapun penduduk Madinah, mereka juga tidak mempertimbangkan secara matang. Perasaan mereka juga tanpa kendali. Mereka melepaskan selendangnya di masjid dengan penuh semangat, lalu melepaskan baiat atas Yazid. Seandainya mereka berpikir jernih maka mereka akan tahu bahwa perbuatannya mengundang bencana, sedangkan masih ada cara lain untuk berdamai. Ibnu Umar sebenarnya telah mencegah mereka melepaskan baiat tapi mereka tak mau mendengarkan.


Jadi semua pelaku kejadian berperangai sama, baik khalifah, pegawainya atau yang bertikai, semuanya terhanyut oleh perasaannya.


Hanya saja di belakang perasaan ini ada sebuah kekuatan yang menggerakkan dan mengobarkannya. Apakah itu? Yaitu kepentingan setiap golongan, mungkin setiap mereka mulanya tidak tahu bahwa kepentinganlah yang menggerakkan mereka, tapi kenyataannya perasaan seperti ini terpusat pada kepentingan; kepentingan Yazid jelas, ia tak mau dihina dan dikhianati, kepentingan Husain untuk memeperoleh simpati pengikutnya dan mengambil manfaat atas keadaannya serta meneguhkan posisi Ahlul Bait. Sedangkan kepentingan penduduk Madinah ingin mengembalikan khilafah kepada negerinya setelah lama keluar darinya.


Kesimpulannya bahwa pada masa Yazid, perasaan mengalahkan logika dan hikmah. Hanya saja perasaan ini berasal dari kepentingan dua rezim berbeda, pemerintah Khilafah Rasyidah dan pemerintahan Khilafah Umayyah. Dari dua pemerintahan ini, beberapa daerah Arab bertikai, antara daerah Syam di satu pihak, Hijaz dan Irak di pihak lain. Akan tetapi pertikaian ini belum selesai sepeninggal Yazid, bahkan baru memulai arenanya. Pertikaian ini berlanjut sepeninggal Yazid sampai menghasilkan sesuatu yang asing sebagaimana akan kita lihat.[]


_________


Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy



KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#kupastuntas13

#kupastuntas19

#kupastuntas22