#kupastuntas13
Pemerintahan Hasan bin Ali
#kupastuntas13
Pandangan Hasan tidak sama dengan pandangan Ali, karena ia lebih muda dari ayahnya dan hidup pada masa baru, sehingga pandangannya serupa dengan pandangan orang pada masa tersebut, dengan demikian ia tidak menerima untuk menjadi khalifah. Itu karena syarat-syarat masa itu tidak cocok untuk dirinya, ia merasa wajib tidak terlalu percaya dengan orang-orang dekatnya, ia telah mengetahui mereka dan mengetahui betapa beratnya beban yang ditanggung ayahnya. Saya melihat Hasan sangat terpengaruh dengan peristiwa Utsman. Ia sangat marah dengan orang yang membunuh atau yang menyebabkan terbunuhnya Utsman, ia telah memerangi mereka hingga mengetahui hakikat mereka, hingga wajar kalau ia tidak suka bersahabat dengan mereka. Ia lebih suka khilafah diserahkan orang lain karena khawatir ditipu daya oleh mereka yang ia benci.
Saya memandang bahwa Hasan telah melihat sosok Muawiyah lebih baik untuk masa ini daripada dirinya, ia mempunyai orang-orang dekat yang dapat dipercaya, dan ia mampu melewati jalan yang sangat sulit, sehingga dalam diri Hasan melihat lebih baik menyerahkan pemerintahan kepadanya, dan ia tidak ingin melawannya, hal itu nampak sekali ketika hari pertama ia dibai'at. Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan, "Penduduk Irak membaiat Hasan bin Ali menjadi khalifah, dan ia memberikan syarat, 'Kalian harus mendengar dan taat kepadaku, kalian harus damai dengan orang yang aku ajak damai dan berperang dengan orang yang ku ajak berperang."
Dalam teks lain disebutkan bahwa orang yang membaiat-nya pertama kali adalah Qais bin Sa'ad. Ia mengatakan, "Ajukan tanganmu untuk kami bai'at dengan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya dan memerangi orang-orang yang menyelisihinya, lalu Hasan menjawab, "Di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, jika hal itu di atas segalanya maka baiatlah aku."
Dari dua teks ini nampak bahwa Hasan sesungguhnya menghendaki perdamaian, sehingga otomatis menjadikan Muawiyah sebagai Khalifah.
Hal itulah yang diinginkan Hasan, akan tetapi Hasan mempunyai pasukan yangterdiri dari 4Oribu pasukan dan sangat bertekad untuk meneruskan peperangan dengan pimpinan Qais bin Sa'ad dan Ibnu Abbas.
Sebagian sejarawan menceritakan bahwa ketika Hasan di kemahnya, ia dilempar dengan kampak. Hal itu membuatnya benci dengan pertempuran, dan karena keinginannya untuk berdamai dengan Muawiyah. Padahal sebenarnya kampak itu dilempar ketika ia melakukan perundingan dengan Muawiyah, jika tidak maka pelemparan kampak kepadanya tidak ada artinya untuk menampakkan kebencian pasukannya sendiri kepada Hasan, padahal Hasan ikut berperang bersama mereka?
Hasan sebenarnya ingin menghentikan peperangan, sebagaimana Muawiyah sebenarnya menginginkan hal yang demikian, sehingga terjadilah kesepakatan di antara kedua belah pihak, pada tahun yang terkenal dengan nama Tahun Jamaah.
Hasan dituduh melakukan perundingan karena mengharapkan dua syarat; yaitu agar harta baitul Mal masih dipegangnya dan agar ayahnya tidak dihina di depannya. Syarat yang pertama agar harta baitul mal yang berjumlah 5 juta dirham tetap dipegang olehnya merupakan tuduhan yang tidak sesuai dengan keadilan dan kearifannya. Akan tetapi kalau kita melihat nuansa masa itu maka kita akan mengetahui bahwa Hasan adalah seorang pemimpin rumah tangga yang besar, dan rumah tangga ini mendapatkan hak-haknya dari Baitul Mal, akan tetapi ayahnya Ali bin Abu Thalib tidak memberikan hak tersebut, dan menyamakan antara keluarganya dengan masyarakat biasa, sebagaimana yang dilakukan Umar yang telah memberikan hak tersebut dari Baitul Mal. Pada waktu itu negara dalam keadaan perang sehingga harta Baitul Mal terkuras untuk urusan perang, sehingga sudah menjadi hak keluarga ini untuk mendapatkan haknya dari Baitul Mal, dan pemberian hak tersebut diakhirkan karena adanya kondisi khusus, sedangkan harta yang diambil Hasan bukanlah untuk kepentingan dirinya sendiri, akan tetapi untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Kita sudah mengetahui bahwa sahabat-sahabatnya sangat banyak sekali, untuk perlengkapan perang dan pemukiman mereka membutuhkan dana yang begitu besar, dengan hal itu maka wajar saja kalau Hasan harus menyisihkan dana yang besar ini untuk menyuplai para pasukan perang dan membagikan di antara mereka. Bagaimanapun keadaannya Hasan bin Ali merupakan tokoh penting Islam dalam mendamaikan dan menyatukan jamaah. Ia telah memahami perkembangan masa dan menyatukan kaum muslimin dalam satu Khalifah setelah mereka berselisih dan bertempur, dan hal tersebut merupakan sikap yang paling baik.
______
Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy
Tarikhul Islam, Imam Adz-Dzahabi
KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar
Posting Komentar