#bersamarasul_11
Rasulullah ﷺ dan Syariat Poligami
#bersamarasul_11
Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa
Rasulullah ﷺ menikahi sembilan wanita yang
kemudian dikenal dengan sebutan Ummahatul
Mukminin. Alangkah mulia dan tinggi kedudukan tersebut!
Rasulullah
menikahi seorang wanita yang berusia senja, berstatus janda, wanita yang lemah, hanya 'Aisyah
Radhiallaahu anha saja yang bertatus gadis di antara seluruh istri-istri beliau. Beliau adalah contoh terbaik dalam hal berlaku adil kepada
para istri, dalam hal pembagian giliran ataupun urusan lainnya. 'Aisyah Radhiallaahu anha mengungkapkan:
Setiap kali Rasulullah hendak melakukan
lawatan, beliau selalu mengundi para istri. Bagi yang terpilih akan menyertai beliau dalam lawatan tersebut. Beliau
membagi giliran bagi setiap istri masing-masing sehari semalam." (HR. Muslim)
Riwayat Anas Radhiallaahu anhu berikut ini memaparkan
kepada kita salah satu bentuk keadilan beliau kepada para istri. Anas Radhiallaahu anhu menceritakan : Rasulullah mempunyai sembilan orang istri. Apabila beliau telah membagi giliran bagi para istri, beliau hanya bermalam di rumah istri yang tiba masa gilirannya. Biasanya para Ummahaatul Mukminin
berkumpul setiap malam di rumah tempat beliau
bermalam. Pada suatu malam, mereka berkumpul di rumah 'Aiysah Radhiallaahu anha yang sedang tiba
masa gilirannya. Rasulullah mengulurkan
tangannya kepada Zaenab Radhiallaahu anha yang hadir ketika itu. 'Aisyah Radhiallaahu anhu berkata : "Itu Zaenab!" Beliau segera menarik tangannya
kembali." (Muttafaq 'alaih)
Demikianlah suasana rumah Rasulullah
yang agung. Suasana harmonis seperti itu hanya dapat terwujud
dengan bimbingan taufik dan hidayah dari Allah
Subhannahu wa Ta'ala. Beliau senantiasa bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala yang teraplikasi dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Beliau senantiasa
menganjurkan istri-istri beliau untuk giat beribadah serta
membantu mereka dalam melak-sanakan ibadah, sesuai dengan perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala, "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki
kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang
bertaqwa." (Thaha: 132)
Aisyah Radhiallaahu anha menceritakan : Rasulullah biasa mengerjakan shalat malam sementara aku tidur melintang di hadapan beliau. Beliau akan membangunkanku bila hendak mengerjakan shalat witir." (Muttafaq 'alaih). Rasulullah menghimbau umatnya untuk mengerjakan
shalat malam dan menganjurkan agar suami istri hendaknya saling membantu dalam mengerjakannya.
Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan memercikkan air ke wajah suaminya!Demikian pula sebaliknya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ
bahwa beliau bersabda : "Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk
mengerjakan shalat malam lalu membangunkan istrinya untuk shalat bersama. Bila si istri enggan, ia
memercikkan air ke wajah istrinya (supaya
bangun). Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala
merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam lalu
membangunkan suaminya untuk shalat bersama. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya (supaya bangun)." (HR. Ahmad)
Perhatian seorang muslim terhadap penampilan luar sebagai pelengkap bagi kemurnian dan kesucian batinnya termasuk kesempurnaan pribadi dan ketaatan dalam
beragama. Beliau adalah seorang yang suci lahir maupun batin, beliau menyenangi wangi-wangian dan
siwak dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu. Rasulullah ﷺ
bersabda : "Seandainya tidak menyusahkan umatku, niscaya
akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat." (HR. Muslim). Dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu ia berkata : Rasulullah
biasa menggosok giginya dengan siwak setiap kali bangun dari tidur." (HR. Muslim). Syuraih bin Hani' berkata : "Aku pernah bertanya kepada
'Aisyah Radhiallaahu anha, Apa yang pertama sekali dilakukan Rasulullah setiap kali memasuki rumahnya?"
'Aisyah Radhiallaahu anha menjawab : "Beliau
memulainya dengan bersiwak." (HR. Muslim).
Betapa besar perhatian beliau terhadap kebersihan!
Beliau mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan keluarga. Beliau selalu membaca doa setiap kali memasuki rumah,
sebagai berikut :
"Dengan menyebut nama Allah kami masuk (ke
rumah), dan dengan menyebut nama Allah kami keluar (darinya), dan kepada Rabb kami, kami
bertawakkal. Kemudian beliau mengucapkan salam kepada keluarganya." (HR. Abu Daud).
Wahai saudaraku, bahagiakanlah keluargamu dengan
penampilan yang bersih dan ucapan salam ketika menemui mereka. Janganlah engkau ganti dengan cacian, makian dan bentakan.
_________
Sehari di Kediaman Rosul, Syekh 'Abdul Malik Al Qasim
KUPASTUNTASSEJARAHISLAM
Komentar
Posting Komentar