#kupastuntas17


Perang Al-Harrah


#kupastuntas17


Kejadian kedua yang patut disayangkan pada masa Yazid yaitu pertempuran Al-Harrah. Sumber berita ini banyak, terutama yang diceritakan oleh Abi Mikhnaf As-Syi'i. Sebagian cerita Abi Mikhnaf sedikit berbeda dengan yang lainnya, tetapi secara umum, yang dikatakannya hampir sama dengan cerita-cerita yang berasal dari sumber lain. Di sini akan kami ceritakan secara ringkas mengenai kejadian tersebut, yaitu cerita yang kami anggap benar dan terpercaya. Maka kami katakan, "Kematian Husain bukanlah hal remeh. Kematian ini membuat masyarakat bergejolak, khususnya bagi penduduk Maakah yang sedang berada di luar daerah. Abdullah Bin Zubair sangat menyayang-kan kematian tersebut. Ia menyalahkan Yazid sebagai penyebabnya dan mengobarkan semangat masyarakat atasnya. Ibnu Zubair lalu menuduh Yazid dengan berbagai tuduhan jelek. Sebagian yang ia katakan, "Demi Allah, mereka telah membunuhnya -yakni Husain- yaitu orang selalu sholat di waktu malam, yang selalu berpuasa di waktu siang, orang yang paling berhak di antara manusia, dan yang paling utama agama dan kehormatannya. Demi Allah ia bukanlah orang yang mengganti Al-Qur'an dengan nyanyian, bukan pula mengganti tangisan takut kepada Allah dengan tangisan derita, bukan pula mengganti puasa dengan meminum arak, bukan pula mengganti majlis dzikir dengan perburuan -dengan maksud mengejek Yazid-.

Sungguh mereka benar-benar dalam kesesatan."


Lalu masyarakat menghadap Ibnu Zubair dan berkata, "sekarang Husain telah meninggal, sedangkan tidak ada orang yang berhak menjadi khalifah kecuali kamu." Lalu para penduduk membaiat lbnu Zubair secara sembunyi-sembunyi. Ia berlindung pada Ka'bah. Ketika kabar ini sampai kepada Yazid maka ia menjadi khawatir. Ia bersumpah bahwa Ibnu Zubair tidak akan mendatanginya kecuali dengan keadaan terantai. Lalu sumpah tersebut ditafsiri dengan mengirimkan rantai dirham yang diletakkan di bawah pakaiannya supaya ia senang. Tetapi Ibnu Zubair tidak mau menerimanya dan ia bisa kabur darinya.


Pada saat itu Makkah dipegang oleh seorang gubernur yang teledor, yaitu Amru Bin Sa'id Bin Al-Ash. Lalu gubernur ini dicopot oleh Yazid dan digantikan oleh Al-Walid Bin Utbah. Mutasi ini membuat Ibnu Zubair geram, lalu ia mendapat akal yaitu melayangkan surat kepada Yazid supaya mengganti dengan gubernur yang lebih lunak, dengan tujuan supaya terjadi perdamaian antar kaum muslimin dipundaknya. Lalu Yazid mengutus seorang pemuda belia yang bernama Utsman Bin Muhammad Bin Abi Sufyan dengan harapan supaya ia dapat meredam konflik. Utsman lalu mengumpulkan beberapa utusan dari penduduk Madinah untuk dikirim kepada Yazid supaya mendekatinya dan berdamai dengannya. Yazid mengumumkan kesediaannya untuk menerima mereka, dalam rombongan utusan tersebut ada Abdullah Bin Hanzhalah Al-Ghasil dan suadara Ibnu Zubair namanyaAl-Mundzir. Ketika sampai kepada Yazid, ia menyambutnya dengan sambutan hangat dan menyuguhinya dengan bermacam-macam suguhan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Al-Mundzir diberi uang sebanyak seratus ribu dirham. Lalu rombongan kembali ke Madinah. Setelah sampai, banyak yang menanyakan kepada mereka apa yang mereka lihat, lalu mereka menjawab, "Kita telah menemui seseorang yang tak punya agama, peminum arak, suka bermain musik dan bernyanyi, suka bermain-main dengan anjing, bersenda gurau dengan dayang-dayangnya. Sesungguhnya kami bersaksi bahwa kami telah putus dengannya." Lalu para penduduk mengikutinya untuk melepas baiat Yazid. Sebagai seremonialnya, mereka membuang selendangnya di masjid, melepaskannya dan mengumumkan bersamanya bahwa mereka telah putus baiat dengan Yazid.


Berita ini sampai kepada Yazid, terutama apa yang disebutkan oleh Al-Mundzir Bin Zubair mengenai dirinya. Lalu ia berkata, "Sungguh aku telah menghormati dan memuliakannya, akan tetapi ia malah mengkhianatiku dan berkata bohong serta memboikot." Ini berarti bahwa Al-Mundzir telah mendustainya dengan apa yang ia katakan tentang minum arak dan maksiat kepada Allah.


Penduduk mengangkat Abdullah Bin Hanzhalah untuk menjadi pemimpin pemboikotan terhadap Yazid. Lalu mereka mengepung kediaman pegawai pemerintah di Madinah dan keluarga Umayyah di rumah Marwan Bin Hakam. Kemudian keluarga yang terkepung tadi mengirim surat kepada Yazid untuk minta pertolongan, "sesungguhnya kami dikepung di rumah Marwan Bin Al-Hakam, kami dihalangi untuk mendapat air bersih dan kami dilempari dengan gandum, maka tolonglah kami." Ketika membaca surat ini, hatinya bergolak marah, kemarahannya memuncak. Kami dapat membayangkan bahwa Yazid, seorang pemuda dengan segala kebesarannya, pastilah ia ingat akan kejadian Utsman Bin Affan, bagaimana ia dikepung dalam istananya kemudian dibunuh. Ia pasti sadar dan menganggap bahwa penduduk Madinah sedang menghinanya dan kekuatannya sedangkan ia adalah seorang khalifah. Ia tidak akan membiarkan tragedi Utsman terulang kembali. Maka dengan kemarahan membara ia berkata, "Tak ada kebaikan dalam hidup setelah mereka."


Muslim Bin Uqbah telah siap untuk menyerang mereka. Ia adalah pengawal Bani Umayyah yang sangat setia, seorang separuh baya yang terlatih dalam hal kemiliteran. Yang ia tahu hanyalah peperangan dan memimpin tentara. Ia patuh dengan apa yang diperintahkan Yazid, tuannya. Ia berpidato di depan penduduk, "Mari berperang menuju Hijaz dan setiap kamu akan diberi imbalan seratus dinar yang diletakkan pada telapak tanganmu." Maka berkumpullah sebanyak dua belas ribu pasukan, Kaum Anshar dan Muhajirin yang sedang berada di Syam mengetahui akan bahaya yang ditimbulkan, mereka lalu menghadap Yazid untuk mengusahakan damai, ini diusulkan oleh seorang keluarga Anshar yang bernama An-Nu'man bin Basyir Al-Anshary. Lalu juru runding yang bernama Abdullah Bin Ja'far bin Abi Thalib berkata kepada Yazid, "Jika mereka -para pengepung- kembali taat kepadamu, akankah kamu mengampuninya?" Yazid berkata, "Jika mereka melakukannya, maka tak ada jalan bagi mereka. Wahai Muslim! Ketika kamu masuk Madinah sedangkan kamu tidak dihalang-halangi, penduduknya taat dan patuh, maka jangan kamu sentuh satu pun dari mereka, Langsunglah menuju si pembangkang Ibnu Zubair, jika penduduk Madinah menghalangimu, maka berilah waktu tenggang tiga hari, jika mereka belum menurut, maka berdoalah dan perangi mereka, mereka akan merasakan tersiksa di pagi hari dan sore hari akan merasakan kematian, tak akan berguna senjata mereka. Jika mereka melawan dan sebagian keluarga Umayah terbunuh, maka binasakan semuanya, baik yang menghadapi perang atau yang mundur, bunuh juga sekalian yang sedang terluka, jangan diberi ampun, dan rampas harta mereka selama tiga hari serta jagalah Ali Bin Husain."


Perintah Yazid ini sangat keras pada bagian akhirnya. Yaitu diperintahkan untuk merampas harta penduduk Madinah selama tiga hari. Inilah yang dilarang Islam, hanya saja Yazid memberi syarat, yaitu jika penduduk Madinah telah menyayatkan pedang kepada keluarga Umayyah. Ini menunjukkan nepotisme dan kefanatikannya kepada keluarga dan keturunannya.


Jadi kepentingan Yazid adalah kepentingan golongan dan sikapnya adalah sikap seorang pemuda yang fanatis golongan. Ia tidak mencerminkan sikap seorang khalifah umat Islam secara keseluruhan.


Muslim bin Uqbah berangkat menuju Madinah bersama bala tentaranya, di tengah jalan ia mendapatkan keluarga Umayyah telah keluar dari Madinah dan pergi menuju Syam, kemudian ia menghentikan rombongan dan bertanya mengenai keadaan Madinah. Rombongan keluarga Umayyah tidak menjawab, Hal ini disebabkan bahwa sebelum dilepaskan penduduk Madinah mereka telah berjanji untuk tidak memberitakan apapun kepada musuhnya. Lalu Muslim menjadi sangat marah. Kemarahannya baru padam setelah Abdul Malik Bin Marwan menunjukkan kepadanya suatu strategi yang harus dipakai melawan penduduk Madinah. Ia memberi arahan supaya menuju Madinah lewat jalur timur dan bertemu tentara Madinah pada arah selatannya. Berperang melawan penduduk Madinah pada sebuah tempat yang disebut Al-Harrah. Di sini matahari terbit di hadapan tentara Syam. Dengan demikian sinamya akan membuat mata pedang dan topi baja berkilauan sehingga akan menggentarkan musuh. Muslim menyetujui siasat yang diajukan pemuda Umawi yang licik tersebut. Ketika sampai Al-Harrah, maka mereka menyem penduduk Madinah supaya membiarkannya berjalan menuju Makkah, karena mereka bukanlah tujuan melainkan Ibnu Zubair yang sedang berada di Makkah. Akan tetapi tentara Madinah menghalanginya untuk menuju Makkah. Ketika tidak ada lagi perundingan maka pecahlah peperangan. Ini merupakan pertempuran yang sengit, penduduk Madinah bertempur dengan gigih dan penuh keberanian. Mereka telah mengerahkan kobaran semangat yang mereka punyai, akan tetapi akhirnya mereka harus menelan kekalahan karena dikhianati oleh Bani Fazarah yang balik menyerangnya lewat belakang, penduduk Madinah akhirnya menyerah. Peperangan ini menelan korban meninggal sebanyak tiga ratus enam pemuda dari kalangan Quraisy dan Anshar.


Setelah peperangan mereda, pembuat onar dihadirkan oleh Muslim dan diinterogasi, mereka disuruh untuk kembali berbaiat bahwa mereka adalah hamba Yazid yang berkuasa atas keluarga, darah dan harta mereka. Mereka tidak mau menerimanya dengan model baiat seperti itu, maka akhirnya mereka dibunuh. Muslim sebenarnya ingin menghina dan merendahkan martabat mereka sehingga mereka disuruh untuk menjadi hamba Yazid dan sepenuhnya menjadi miliknya.


Mari kita lihat bagaimana penduduk Syam bertempur dalam peperangan ini. Mereka berkeyakinan bahwa merekalah yang benar. Para tentara dibakar semangatnya, komandan berkata, "Mereka dan sekutunya dari suku Arab telah berubah, maka Allah mengubah mereka, Sempurnakanlah ketaatan yang ada padamu, maka Allah akan menyempumakan kemenangan yang ada padamu." Muslim yakin bahwa peperangannya melawan penduduk Madinah akan mendapat pahala. Maka setelah selesai perang dan dalam perjalanan menuju Ibnu Zubair, ia meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia berkata,"Ya Allah, aku tidak melakukan hal apapun setelah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, yang lebih aku cintai daripada bertempur melawan penduduk Madinah, dan tidak ada yang lebih aku harapkan pahalanya di akherat daripada pertempuran tersebut." Dengan kalimat ini seakan-akan ia berjasa kepada Islam dan kepadaAllah atas peperangannya dengan penduduk Madinah, karena ia yakin bahwa mereka adalah pembuat fitnah dan keluar dari ketaatan kepada Imam.


Sebelum meninggal, Muslim menyerahkan kepemimpinan tentara kepada Al-Hushain bin Numair, dan ini sesuai dengan arahan dari Yazid. Maka Al-Hushain berangkat memerangi Ibnu Zubair, pada saat itu Ibnu Zubair masih berlindung di Ka'bah dan dibaiat oleh penduduk sana, ia tidak keluar darinya dan mengira akan aman padanya. Benar, pada hari-hari pertama ia aman dari serangan tentara Syam, para tentara menarik diri untuk menyerang Ka'bah. Mereka memberi tangguh lalu terjadi pertempuran kecildi luar Ka'bah, maka penduduk Makkah berlindung lagi di dalamnya. Batu-batu dari tentara Syam yang mereka lemparkan ke arah Ka'bah membuat sebagian bangunannya retak, salah seorang pengikut Ibnu Zubair menyalakan sumbu api, lalu mengenai satir penutup Ka'bah dan membuatnya terbakar. Terjadilah kebakaran dan yang dituduh sebagai pelakunya adalah penduduk Syam.


Kemudian Ibnu Zubair mendengar kabar dari Syam mengenai kematian Yazid pada musim gugur tahun 64 H. Lalu ia memberitahukan berita ini kepadatentara Syam. Semula mereka tidak mempercayainya, akan tetapi setelah datang kabar dari sumber khusus, mereka baru percaya. Dengan berita ini para tentara Syam menjadi ribut karena mereka tidak lagi mempunyai seorang pemimpin, bahkan mereka sempat kebingungan. Lalu Al-Hushain berusaha untuk meredam fitnah dengan cara berunding dengan Ibnu Zubair. Ada beberapa syarat yang diajukan. Pertama, pertumpahan darah harus diredam dahulu.

Ini berarti bahwa Ibnu Zubair tidak boleh mengumpulkan orang, baik dari Makkah ataupun Madinah untuk menyerang. Kedua -syarat ini yang paling diinginkan Al-Hushain- kepindahan Ibnu Zubair menuju Syam. Tanpa kepindahan ini tidak mungkin bagi Ibnu Zubair untuk menjadi khalifah. Ibnu Zubair menolak syarat kedua ini, maka Al-Hushain mengejeknya, "Sungguh aku telah memberi harapan padamu dengan kecerdikanku." Lalu ia kembali ke Syam bersama bala tentaranya.


__________


Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy


Tarikhul Islam, Imam Adz-Dzahabi


Tarikh Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari



KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#kupastuntas13

#kupastuntas19

#kupastuntas22