#kupastuntas16


Kematian Husain di Tragedi Karbala

Bagian 2


#kupastuntas16


Dalam perjalanan menuju Irak, Husain mendapat kabar akan kematian anak pamannya muslim, lalu ia memujinya dan ingin kembali ke Makkah akan tetapi saudara-saudara Muslim mengatakan, "Demi Allah kami tidak akan pulang hingga kami dapat membalas atau kami mati." Kemudian Husain menjawab, "Tidak ada kebaikan hidup setelah kamu." 


Lalu ia tetap melanjutkan perjalanannya ke Irak hingga bertemu dengan pasukan yang dikirim oleh Ibnu Ziyad yang berjumlah seribu pasukan, dan datang lagi pasukan yang membantunya berjumlah empat ribu pasukan, mereka bertemu di Karbala beberapa mil sebelah selatan Baghdad. Ia bertemu di tempat ini menunjukkan bahwa ia berada di tengah jalan menuju Syam dengan mengurungkan niatnya ke Kufah, setelah mereka bertemu, Husain memberikan tiga pilihan yaitu meninggalkan dirinya pergi, menghadapkan diriku kepada Yazid atau membiarkan diriku ikut bersama pasukan perangmu."


Tentara tersebut dipimpin oleh Umar bin Said bin Abi Waqqas, sebenarnya Ubaidillah mempersiapkan pasukan ini untuk memadamkan pemberontakan penduduk Ad-Dailam kemudian dipindahkan untuk menghadapi Husain. Umar minta tangguh untuk menentukan sikap hingga pada hari kedua, Husain ikut rombongan Umar.


Ketika Ubaidillah mengetahui bahwa Umar bin Said berbuat baik kepada Husain, lalu ia mengirim surat kepada Ubaidillah tiga usulan Husain tersebut, Ubaidillah hampir menerimanya jika Syamar bin Dzil Jausyin -salah satu perusuh dan pembuat fitnah- tidak mengusulkan hal ini, "Jika ia dapat keluar dari daerahmu maka engkau tidak akan menguasainya, padahal engkau lebih kuat darinya, maka hal itu berarti pertanda kelemahanmu, janganlah engkau beri kedudukan ini. Karena hal ini merupakan tanda kelemahan dan menurunkan derajat kamu dalam kekuasaan kamu, jika engkau menghukumnya maka engkau adalah pemilik hukuman jika tidak maka ampunanmu maka itu terserah engkau." 


Ubaidillah mempertimbangkan kata-kata Syamar, ia adalah seorang penindas maka tidak boleh bersifat lunak dan lemah, sehingga setuju dengan perkataan Syamar, ia lalu menulis surat kepada Umar yang isinya kalau Husain tidak mau menyerah kepada Ubaidillah maka bunuhlah, jika Umar tidak dapat melaksanakannya maka harap ia melepaskan diri dari memimpin pasukan dan menyerahkannya kepada Syamar.


Ketika Syamar menyerahkan surat tersebut kepada Umar.

Umar sangat takut akan dirinya dari Ibnu Ziyad, ia tidak mungkin menyerahkan komando kepada Syamar, dan ia tetap memegang kendali tentara, lalu ia meminta Husain untuk menyerahkan diri, karena ia tidak mau maka terjadilah pertempuran. Perlu diperhatikan bahwa Husain tidak memulai peperangan, ia hanya tidak mau menyerah saja, terjadilah pertempuran antara golongan kecil tidak lebih dari 80 pasukan melawan tentara lengkap dengan jumlah 5 ribu pasukan mariner dan penunggang kuda, beberapa orang yang ikut Husain mengetahui bahwa penduduk Irak telah berkhianat kepada Husain, hingga mereka merasa kewajibannya untuk mati di depan Husain. Mereka tahu kematian sudah di depan mereka, pertempuran itu membuat terbunuhnya pasukan Husain yang berjumlah 72 pasukan termasuk Husain di dalamnya.


Dalam peperangan tersebut ada yang memprovokasi untuk membunuh Husain yaitu ucapan, "Wahai penduduk Kufah tetaplah dalam taat dan jamaah, janganlah ragu untuk membunuh orang yang sudah keluar dari agama dan menyelisihi imam." Dengan demikian penduduk Kufah ingin tetap dalam taat dan jamaah, dan bagi mereka Husain dan kawan-kawannya merupakan orang-orang yang sudah keluar dari agama.


Pertempuran berakhir dengan peristiwa yang tragis dan memilukan, kepala Husain dipotong dan dikirimkan kepada Ubaidillah bin Ziyad, Ubaidillah sangat suka dengan melihat kepala tersebut, kemudian ia mengirim kepala tersebut bersama keluarga Husain kepada Yazid, ketika utusan Ubaidillah sampai ke hadapan Yazid dan menyerahkan kepalanya dengan harapan akan mendapat hadiah besar. Yazid langsung putus harapannya, ia tidak memberikan hadiah kepada utusan tersebut malah memarahinya, kedua pelupuk mata Yazid berlinang air mata, dan mengatakan, "Aku telah memerintahkan kamu untuk tidak membunuh Husain, semoga Allah melaknati Ibnu Ziyad, jika aku bertemu dengannya niscaya aku akan memaafkannya, semoga Allah merahmati Husain," kemudian Yazid memasukkan keluarga Husain ke kediamannya, para isteri Yazid menyambut mereka dengan tangisan, mereka lalu menetapkan tiga hari untuk berkabung, dan Yazid tidak pernah makan kecuali keluarga Husain diajaknya."


Yazid kemudian melepaskan Ali bin Husain ke Madinah, ia memerintahkan untuk dilayani selama dalam perjalanan, dan ia selalu menasehati Ali hingga akhir hayatnya.


Kita berhenti sejenak guna memperhatikan sikap Yazid pasca kematian Husain, nampak dalam peristiwa-peristiwa tersebut bahwa sebenarnya Yazid tidak ingin membunuh Husain, dan ia sangat menyesali kematiannya dan sering menangisinya. Abu Mikhnaf menceritakan tentang tangisan Yazid ini, ia mendoakan Husain, melaknat Ibnu Ziyad, dan memuliakan keluarga Husain, akan tetapi kebenciannya hanya sampai di situ saja, ia tidak memecat Ibnu Ziyad yang telah melanggar perintahnya, ia tidak mengirim surat kepada Ibnu Ziyad hingga sampai kepada kita, ia tetap mempertahankannya menjadi gubernur di Kufah. Hal itu menunjukkan walaupun ia bersedih akan kematian Husain tetapi ia merasa tenang karena telah menghabisi musuh besarnya dalam khilafah, perlu kami tegaskan bahwa yang paling bertanggung jawab atas kematian Husain adalah Syamar kemudian baru Ubaidillah bin Ziyad.


_______


Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy



KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#kupastuntas13

#kupastuntas19

#kupastuntas22