#kupastuntas14
Berpindahnya Kekuasaan dari Khulafaurrasyidin kepada Umawiyin
#kupastuntas14
Setelah dijelaskan mengenai beberapa peristiwa di masa Ali yang sebenarnya telah ada bibit-bibit penyebabnya di masa Utsman, apakah itu semua menjadi penyebab utama berpindahnya kekhilafahan dari Khulafaurrasyidin kepada Umawiyin?
Ada kudeta besar terjadi dalam sejarah Islam karena berubah dan berpindahnya kekuasaan. Kami tidak mengesampingkan termasuk dalam kudeta ini kematian Khalifah dan pertempuran-pertempuran yang terjadi setelahnya, yang penting bagi kami adalah mengetahui sisi pandang sejarah mengapa pertempuran-pertempuran tersebut dapat merubah dan memindahkan sebuah kekuasaan.
Kalau kita tilik ke latar belakang peristiwa dan menimbang berbagai pertempuran dan pengaruhnya terhadap perkembangan. Maka kita tidak akan melihat hal tersebut sebagai perubahan besar yang terjadi, seperti perang Shiffin, dalam perang ini Muawiyah kalah, kalaupun ia harus menebus dengan kecerdikannya maka kekuatan militernya tidak mampu mengalahkan tentara Irak dan Hijaz.
Kita perlu menyatakan hakikat sebenarnya yaitu bahwa kekuasaan umawiyah tidak didasarkan atas kekuatan senjata dan keperkasaan prajurit, akan tetapi didasarkan atas perdamaian dengan rivalnya dan kesepakatan dengan mereka. Justru bukan peperangan yang membuat terbentuknya kekuasaan Umawiyah.
Kalau kita menerima pendapat bahwa peperanganlah yang membentuk berdirinya negara Umawiyah, sebagaimana yang dikemukakan oleh sejarawan, maka kita tidak akan mengetahui mengapa peperangan tersebut mampu memindahkan kekuasaan Khulafaurrasyidun menjadi kekuasaan Umawiyyin, dan memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah menuju Damaskus. Ada yang beranggapan bahwa kepribadian Muawiyah berperan besar dalam hal ini, akan tetapi sejarah sekarang tidak melihat bahwa seseorang tidak akan mampu merubah sebuah negara dengan kepribadian dan kekuatannya. Kalau hal itu disebabkan karena kecerdasan Muawiyah maka sebenarnya Ali bin Abi Thalib lebih cerdas daripadanya minimal tidak katah kepandaiannya dengan Muawiyah, dengan demikian kecerdasan Muawiyah tidak mampu menghilangkan kekuasaan Islam hanya karena kecerdasannya.
Dalam pikiran saya sebelum melakukan riset mengarah bahwa peristiwa-peristiwa yang mendahului kekuasaan Umawiyah jangan ditafsirkan secara lahiriah saja sebagaimana yang telah dilakukan oleh sejarawan dengan menganggapnya sebagai kudeta dahsyat yang sedang terjadi, karena ada faktor-faktor tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa tersebut yang harus diungkap. Maka saya berpikir harus mengemukakan peristiwa-peristiwa ini pada waktu melakukan riset dan menguak faktor-faktor tersembunyi di balik peristiwa tersebut. Dengan hal itu saya harus melakukan studi terperinci dan mendalam yang dimulai dengan pembahasan ini.
Setelah melakukan studi terperinci kami melihat bahwa kesalahan penafsiran itu disebabkan karena condong mengikuti arus pemikiran sejarawan terutama Al-Waqidi, Abu Mikhnaf, dan Ibnu Ishaq yang berpendapat bahwa faktor penyebab terjadinya fitnah adalah orang-orang yang berada di Madinah. Para Sahabatlah yang menggerakkan massa dari berbagai kota untuk melakukan hal tersebut, dan semua ini penyebab terbesarnya adalah kesalahan-kesalahan Utsman dalam memegang kekuasaan.
Kecenderungan beberapa sejarawan ini telah merusak sejarah dalam menafsirkan fitnah termasuk penafsiran kudeta yang terjadi dalam negara Islam. Perselisihan dan persengketaan Sahabat dan kesalahan-kesalahan Utsman kalau terjadi sebagaimana diceritakan oleh sejarawan, maka tidak akan membuat kekuasaan berpindah dari Hijaz menuju Syam, dan dari Khulafaurrasyidun kepada orang-orang Umawiyyin. Walaupun hal itu sangat membahayakan bagi kelangsungan Negara, tetapi belum bisa menjawab perihal perpindahan ini.
Saif kemudian datang dengan informasi dan sumber-sumbernya yang valid di Bani Tamim sesuai dengan kisah-kisah yang diriwayatkan secara shahih dari para saksi sejarah dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ia mengemukakan kepada kita peran Abdullah bin Saba' dalam menggerakkan fitnah dari berbagai kota sehingga diterima oleh pendengar para prajurit yang terdiri dari generasi baru, ia juga menjelaskan kepada kita tentang sikap Arab badui dan keterlibatannya dalam fitnah sebagai pendamping setia pengikut Saba'. Ia menafsirkan kepada kita bahwa keluarnya Aisyah, Zubair dan Thalhah dari kekuasaan Ali adalah karena ia tidak menjalankan pedoman kekuasaan Khulafaurrasyidin yaitu membenarkan yang hak dan menyalahkan yang batil.
Kami dapat memahami rahasia di balik peristiwa-peristiwa tersebut dari riwayat Saif dan Al-Ahnaf, kami menjadi mampu untuk menafsirkan kudeta besar yang terjadi dengan perpindahan kekuasaan dari Negara ke negara lain. Berikut kami sajikan ringkasan singkat dengan mengemukakan beberapa peristiwa sebagai pengantar mempelajari sejarah Negara Umawiyah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu:
Telah terjadi pada masa Utsman perubahan besar yang menyebabkan berubahnya kekuasaan dan perubahan lain yang sangat banyak yaitu:
Pertama, perubahan daerah kekuasaan Islam sebagai hasil dari pembukaan daerah, sehingga Madinah tidak cocok lagi untuk menjadi ibu kota Negara pada daerah yang sangat luas tersebut, karena ia terletak sangat jauh dari negeri-negeri yang dibuka, sehingga susah untuk mengendalikan daerah-daerah yang jauh dari Madinah, dengan demikian maka Damaskus lebih cocok sebagai ibu kota negara.
Kedua, perubahan pusat perekonomian, Hijaz telah menjadi pusat pengumpulan harta rampasan perang dari negeri-negeri yang telah dibuka hingga ia tidak mempunyai pengaruh secara ekonomi lagi, kecuali hanya menjadi pusat pembagian dari harta negara.
Ketiga, perubahan tabiat kehidupan materi, masyarakat telah berpindah dari hidup yang susah dan zuhud terutama pada awal-awal pemerintahan Khulafaurrasyidun menjadi masyarakat yang bergelimang kemewahan yang tidak sesuai dengan arah kebijakan pemimpinnya.
Keempat, perubahan dalam tatanan masyarakat dengan munculnya kaum Arab badui dan orang-orang murtad yang pada masa dua khalifah pertama dimarginalkan, munculnya mereka mempunyai pengaruh yang besar dalam merubah keadaan masyarakat, terutama pada waktu terhentinya pembukaan daerah untuk beberapa masa.
Kelima, perubahan besar dalam masyarakat dengan munculnya generasi baru di masyarakat, mereka adalah bukan generasi Sahabat dan hidup tidak bersama Sahabat sehingga sifat mereka tidak sama dengan sifat para Sahabat terdahulu, mereka menjadi generasi anarkis dan frontal, dengan tidak rela dengan realita budaya yang dianut oleh generasi Sahabat sebelumnya.
Keenam, semua perubahan tersebut telah membentuk masyarakat dengan cara berpikir yang baru dan jauh sekali dengan cara berpikir para Sahabat yang mendapat petunjuk, mereka tidak memahami lagi rasionalitas berpikir dan tidak menjiwainya dalam menetapkan keputusan-keputusan.
Kami perlu menegaskan di sini bahwa kekuasaan Khulafaurrasyidun adalah kekuasaan yang telah berlalu dengan tipe khusus pada masanya. Tipe tersebut terkenaldengan sistem Syura (musyawarah), padahal semua kekuasaan di dunia pada masa itu menggunakan sistem otoriter dan diktator. Musyawarah adalah bentuk persamaan dan keadilan masyarakat, dan kekuasaan di tempat lain menggunakan tangan besi dan pemaksaan terhadap golongan lain, sistem ekonomi pada masa Khulafaurrasyidin juga mempunyai bentuk khusus yaitu dengan cara membagikan harta umat kepada seluruh orang dalam masyarakat, baik mereka itu pejuang yang berperang dalam medan pertempuran maupun orang yang mukim dan tidak dapat berperang karena berbagai sebab dan alasan. Mereka pada waktu itu tidak terlalu mementingkan ekonomi, karena pada kekuasaan Khulafaurrasyidin mereka mengedapankan sikap zuhud dan tawadhu', sehingga mereka berani menghadapi musuh-musuhnya yang melakukan konspirasi untuk menggulingkan mereka, seorang Khalifah tidak perlu dilindungi oleh tentara dan polisi pada waktu itu.
Dengan adanya semua faktor-faktor di atas maka kekuasaan Khulafaurrasyidun sangat susah untuk bertahan lama, karena masyarakat baru dengan generasi dan pemikiran barunya baik Arab maupun bukan tidak dapat menyesuaikan dengan kekuasaan Khulafaurrasyidin, sehingga kekuasaan harus diganti dengan corak modern beserta pemikiran dan cara pandang hidupnya terhadap kehidupan.
Kecenderungan masyarakat baru ini lebih menghendaki kekuasaan dipimpin oleh raja-raja yang masih ada hubungan kekeluargaan seperti dahulu pada masa Jahiliyah. Hal itu sangat cocok menurut pikiran mereka dan kebutuhan masyarakat baru. Muawiyah merupakan sosok yang tepat dan dapat mewakili kepentingan, keinginan dan kecendrungan mereka, dengan demikian maka Syam sangat tepat untuk menjadi ibukota negara baru ini karena penduduknya dari Arab dulunya adalah keturunan Ghassasinah yang hidup dengan maju dan bermewah-mewah. Kekuasaan seperti itulah yang dikehendaki oleh generasi baru, mereka dalam hal ini lebih cocok daripada penduduk Irak. Penduduk Syam telah mengetahui kemajuan budaya sejak lama. Orang-orang Romawi telah ikut serta menguasai mereka beberapa waktu lamanya. Sedangkan raja-raja Persia tidak pernah melakukan hal tersebut kepada penduduk Arab Irak, karena orang-orang Persia tinggal bermukim di Irak dan tidak menguasainya sedangkan orang-orang Romawi tidak datang ke Irak kecuali sebagai penjajah maupun pendatang.
Dengan demikian sudah sewajarnya kalau penduduk Syam berusaha mengambil kekuasaan yang telah lenyap dari kekuasaan Khulafaurrasyidin, dan didukung oleh beberapa situasi yaitu adanya sosok Muawiyah yang tinggal bersama mereka selama dua puluh tahun lamanya, dan ia juga telah menjadi ahli waris Utsman untuk mengambil balasan terhadap kematiannya, dan ia juga merupakan figur komandan yang mampu dan cerdas.
Sebagai kata kesimpulan bahwa terjadinya fitnah yang menyebabkan terbunuhnya Utsman merupakan hasil dari bergolaknya generasi baru dengan pemikiran dan kecendrungan barunya. Sedangkan perang Jamal merupakan perlawanan dari orang-orang yang ingin mengembalikan kekuasaan Khulafaurrasyidin sebagaimana mestinya sedangkan perang Shiffin merupakan ungkapan pentingnya Syam dan kedudukannya dalam dunia Islam, dan sebagai persembahan generasi baru untuk memecahkan problema mereka dan mewujudkan keinginan-keinginannya.
Kekuasaan Khrulafaurrasyidin sebenarnya sudah membela diri dalam peperangan Jamal dan Shiffin, akan tetapi mereka tidak mampu bertahan lama, sehingga Hasan bin Ali melihat bahwa berdamai lebih baik daripada pertempuran. Muawiyah dan Syam merupakan simbol munculnya masa baru yang saling mendukung. Ia merasa wajib menghentikan pertempuran di antara kaum muslimin dan menyatukannya dalam satu jamaah sebagai penyesuaian pada masa itu.
Akan tetapi tahun Jamaah dan berpindahnya kekuasaan ke orang-orang Muawiyah bukan berarti tuntas dan selesainya segala persoalan, karena jiwa kekuasaan Khulafaurrasyidun dengan bentuk aslinya selalu menentang dan melakukan oposisi. Begitu juga dengan kaum Khawarij mereka dengan pemikirannya yang ekstrim selalu melakukan peperangan dan pertikaian, belum lagi penduduk Irak dan Hijaz yang masih menangisi hilangnya kekuasaan dari mereka. Begitu juga para pendukung Ali (Alawiyyin) selalu menjadi aral bagi Bani Umayyah karena telah merebut kekuasaan dari mereka, belum lagi pemikiran Ibnu Saba' yang tersebar di mana-mana menyebabkan problematika baru bagi Bani Umayyah.
Demikianlah terbentuknya negara Umawiyah yang merupakan keinginan dan kebutuhan masa baru, ia terbentuk karena bersamaan dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang di sekelilingnya. Ia adalah pusat peristiwa baik kesusahan maupun kenikmatannya.
_______
Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'isy
KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar
Posting Komentar