#kupastuntas12


Siasat Politik Ali sebagai Khalifah dalam Menghadapi Permasalahan-Permasalahan yang Ada


#kupastuntas12


Kami melihat bahwa Ali telah memperoleh kegagalan dalam politik dan kepemimpinannya. Dalam perang Shiffin ia terjebak dalam jebakan Amru bin Ash. Di Irak ia berselisih dengan Khawarij dan memerangi mereka hingga kekuatan tentaranya pecah dan pada waktu yang sama ia melihat utusan Muawiyah datang ke tempat kediamannya pada akhir hayatnya. Kemudian ia juga melihat bahwa Mesir telah keluar dari kekuasaannya diikuti oleh Hijaz dan Yaman. Semua hal ihr merupakan kegagalan yang mengenaskan, apakah yang menyebabkannya? 


Sejarawan hampir sepakat bahwa hal itu disebabkan karena Ali tidak cakap dalam bidang politik, sehingga ia terjebak dalam beberapa kesalahan. Mereka melihat Ali telah salah dalam memecat para gubernur ketika ia menjadi khalifah, ia juga bersalah dalam menurunkan Muawiyah. Mereka mengatakan sebagai seorang politikus, maka sebaiknya ia membiarkan Muawiyah dan gubemur-gubemur yang lain berkuasa, kemudian mencari kesempatan yang paling tepat seperti yang disarankan oleh Mughirah bin Syu'bah dan Abdullah bin Abbas. Sebagian sejarawan menyatakan bahwa Ali adalah seorang pejuang di peperangan, sehingga tidak menyelesaikan perkara kecuali dengan jalur peperangan, sedangkan seorang politikus tidak melakukan peperangan kecuali sudah buntunya semua jalur damai. Sebagian sejarawan melihat bahwa ia sangat lemah terhadap kaumnya, ia tunduk kepada mereka dan tidak menguasai mereka.


Semua hal diatas sebagian besar mengarah bahwa Ali bukanlah seorang negarawan yang mampu menguasai segala keadaan.


Mari kita lihat kesalahan-kesalahan tersebut dan bagaimana hakikatnya: Tidak ada satu orang pun di antara kita yang meragukan bahwa Ali adalah seorang yang cerdas dan sangat pandai, sangat mengetahui perkara secara dalam, dan bijaksana pendapatnya; Abu Bakar, Umar dan Utsman mengetahui hal ini sehingga menjadikan Ali sebagai penasehat mereka. Bagaimana orang yang bijaksana pendapatnya tetapi lemah dalam bidang politik, sedangkan politik yang baik sangat bergantung pada kecerdasan berpendapat, dan berpendapat sandarannya adalah akal dan kebijakanaan, dan Ali mempunyai kedua hal tersebut?


Kegagalan Ali bukanlah karena kelemahan akalnya, akan tetapi kegagalan tersebut dikarenakan siasatnya yang menganut Siasah Rasyidiah mengikuti Khulafaurrasyidun yang lain, sedangkan ia berada di masa yang amat kacau, dan para penduduk tidak mengenal siasat tersebut. Mengenai bahwa kenapa ia memecat Muawiyah karena kalau Umar berada di posisi Ali maka ia akan memecatnya pula, karena memandang bahwa mereka-merekalah yang merusak citra Utsman, dan pengaduan terhadap mereka terus berdatangan, seorang khalifah yang Rosyid akan melihat kebenaran, keadilan, kelurusan, dan memberikan hak orang-orang yang mengadu permintaannya sebelum yang lainnya.


Ali menganggap bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk tidak membiarkan para gubernur ini. Merekalah yang menyebabkan terjadinya fitnah ini, dan kita mengetahui tentang hal-hal yang diucapkan orang tentang Utsman beserta keluarganya termasuk Muawiyah. Ada yang mengatakan keluarga Utsman adalah orang-orang yang menggunakan kekuasaan Utsman, sedangkan Ali dibaiat untuk mengembalikan hak-hak kepada si empunya, sehingga ia melihat sudah menjadi kewajibannya untuk memecat Muawiyah. Jika tidak maka ia bukan termasuk seorang Rasyid, yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan.


Sedangkan orang yang mengatakan bahwa ia adalah pejuang tempur, memang benar, karena ia adalah peiuang yang gagah berani dalam peperangan, akan tetapi segala sesuatu tidak harus diselesaikan dengan peperangan, kecuali fitnah tidak dapat padam tanpa menggunakan peperangan tersebut.


Di sini kita perlu melihat jejak Khrulafaurrasyidun yang lain;

Abu Bakar ketika sebagian orang Arab tidak mau membayar pajak maka ia langsung memerangi mereka pada waktu ia membutuhkan tentaranya untuk dikirim ke Syam, karena ia melihat tidak ada kompromi dalam hal tersebut. Para Khulafaurrasyidun selalu menggunakan peperangan dalam menegakkan kebenaran dan akidah, dan tidak ada kompromi di dalamnya, dan Ali sendiri melihat mereka telah keluar dari khilafah sehingga wajib diperangi sebab tidak ada kompromi di sana.


Sedangkan kelemahan Ali terhadap kaumnya, jika hal ini memang benar maka disebabkan karena ia orang yang rasyid. Karena orang-orang Rasyid selalu mengedepankan Syura sebagaimana telah kami sebutkan, mereka selalu bermusyawarah dengan para kawan-kawan mereka dan mengikuti kehendak mereka bersama. Sebagaimana kita ketahui bahwa Umar juga berselisih dengan para penasehatnya dalam perkara Fai' (harta rampasan tidak melalui jalur peperangan), dan ia tidak memutuskan permasalahan ini kecuali setelah melakukan rapat dengan para penasehatnya, tentara Ali sudah memutuskan suatu perkara maka tidak bisa baginya untuk menyelisihinya dan ia harus mengikuti pendapat jamaah. 


Dengan demikian Ali adalah seorang Khulafaurrasyidun yang tulen, hanya satu sikap yang merupakan sikap bukan Khulafaunasyidun, yaitu membiarkan para pembunuh Utsman. Kenapa Ali tidak menghukumi mereka dengan apa-apa yang telah diturunkan Allah, dan mengapa ia membiarkan mereka? 


Untuk membenarkan sikap Ali sangat sulit dan susah, sebenarnya ia mampu melakukannya setelah pada hari-hari pertama tidak mampu menghukum mereka, hal itu karena ia mempunyai kekuasaan, ia sendiri menanti kesempatan yang paling tepat, kemudian setelah ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang taat beribadah dan sangat ikhlas kepada Allah maka sangat susah baginya untuk menumpas mereka. Bagaimana ia menghukum orang-orang yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Allah dan agama. Kemudian waktu sudah berlalu, Aisyah sudah membunuh banyak sekali dari para pembunuh Utsman. Para kabilah pembunuh Utsman akhirnya harus memberontak, sehingga akan terjadi fitnah yang lebih besar kalau ia menghukum mereka semua. Pada waktu itu ia sering menunda-nunda hukuman hingga berhari-hari. 


Untuk memperkuat pendapat kami, Imam Al-Ghazali berkata, "Kalau para pembunuh Utsman diadili maka akan terjadi perpecahan dan perselisihan di antara para kabilah hingga akan menyebabkan kekacauan yang mengganggu proses khilafah itu sendiri, maka kalau ia mengakhirkan hukuman hal itu adalah pendapat yang paling tepat. " Ali juga berpendapat bahwa semua orang yang bersekutu mengepung Utsman tidak bertanggungjawab atas terbunuhnya Utsman, kemudian sikap Ali terhadap Muhammad bin Abi Hudzaifah, Muhammad bin Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan AlAsytar, kemudian pengangkatannya terhadap mereka sebagai gubemur Mesir merupakan pandangan bahwa mereka tidak terlibat pada pembunuhan Utsman. Bahkan terhadap mereka yang mengecam Utsman dengan berbagai kecaman jika benar maka akan membenarkan tindakan mereka. 


Jika sikap Ali terhadap para pembunuh Utsman dianggap bukan sebagai sikap orang-orang Rasyidin, maka semua perilaku Khulafaurrasyidin juga tidak termasuk sikap rasyidin. Akan tetapi kalau kita membaca sikap Ali, maka ia termasuk orang yang berpegang teguh kepada keadilan dan kebenaran dengan kuat.

Ia memandang bahwa manusia adalah sama kedudukannya, tidak ada perselisihan di antara mereka. Sebagaimana yang ia contohkan dalam membagikan rampasan perang, makasemua mendapat bagian yang sama. Hal ini ia terapkan pada masa kekuasaannya yang dipenuhi dengan berbagai kesulitan besar, ia sangat hati-hati terhadap dirinya dan keluarganya. Imam At-Thabari meriwayatkan kepada kita tentang apa yang kami katakan ini, "Suatu hari Ali bin Abi Thalib memasuki rumahnya dan melihat anak gadisnya telah berdandan dengan mengguna-kan mutiara dari baitul mal yang pernah ia lihat, lalu ia bertanya, "Dari mana kamu mendapatkan ini, demiAllah akan aku potong tangannya!" Ia hampir saja memotong tangan anaknya kalau tidak diberi tahu oleh penjaga Baitul Mal yang mengatakan bahwa ialah yang memberi permata itu kepada anak gadisnya.


Ali merupakan sosok yang konsisten, adil, berakal, dalam posisi kebenaran, dan selalu mengedepankan permusyawaratan, tidak ada keraguan di dalamnya, hingga dikatakan, Jika hal itu benar maka Ali adalah termasuk orang Rasyidi, lalu darimana kegagalan Ali, padahal ia sudah menegakkan kebenaran dan keadilan?" 


Permasalahannya adalah bukan permasalahan benar dan adil akan tetapi perbedaan masa, masa para khalifah Rasyidin berbeda dengan masa yang dihadapi oleh Ali bin Abi Thalib. Perbedaan ini mencakup berbagai lini kehidupan, masyarakat yang dipimpinnya berbeda dengan masyarakat yang dipimpin Abu Bakar dan Umar. Orang-orang yang sudah mempunyai jiwa keadilan dan konsisten sudah hilang digantikan masyarakat baru yang didominasi kaum Badui dan para budak, dan kedua golongan ini sangat berbeda jauh, ditambah lagi perpindahan kekhalifahan dari Hijaz menuju lrak. Di Hijaz para penduduknya sangat memperhatikan hadits-hadits yang mulia, sedangkan penduduk Irak hanya mengedepankan kepentingan dan embel-embel pribadi. Keadaan ekonomi juga berubah. Pada masa Khulafaurrasyidun pertama adalah masa kesusahan dan zuhud.

Sedangkan masa Ali sudah berubah menjadi masa kemewahan di antara manusia, hingga mempengaruhi kehidupan mereka, kemudian merekapun berbeda-beda pemikiran dan madzhab (aliran). Pada masa Rasyidin pertama masyarakat terbentuk satu pemikiran dan satu aliran, sedangkan pada masa Ali semua berbeda-beda dalam pemikiran dan madzhab, sesama prajurit mempunyai madzhab yang berbeda-beda, termasuk pemikiran Ibnu Saba' yang sangat asing bagi mereka. 


Dengan demikian maka masa Ali sudah terjadi kudeta multi dimensi, mulai dari masyarakat, pusat pemerintahan, madzhab-madzhab, dan sarana material. Seakan-akan kekayaan yang membentuk masa Ali ini. Kesalahan Ali hanya karena ia tidak mewarnai generasi ini dengan warna baru, ia kurang memahami perubahan zaman. Sungguh sangat susah bagi beliau untuk beradaptasi dengan masa ini. Akhimya ia harus gagal bersama politik Rasyidinnya, ia bukan orang masa itu, sedangkan Muawiyah adalah orang yang paling cocok dengan masa tersebut. 


Jika yang dimaksud siasat politik adalah mengikuti dan beradaptasi dengan zamannya, maka Ali bin Abi Thalib bukanlah seorang politikus. Akan tetapi kalau yang dimaksud politik adalah kecerdasan otak dan pemahaman permasalahan, maka Ali adahh seorang politikus hebat. Terserah bagi orang yang meman-dangnya dari kaca mata kedua makna politik tersebut, hingga dapat menyatakan apakah Ali sebagai seorang politikus maupun bukan. Sebagai kata pemisah, Ali merupakan seorang yang hebat dalam bidang politik, hal itu jika masyarakat yang dihadapi seperti masa para khalifah Rasyidin. Akan tetapi masa sudah berubah hingga siasat politiknya tidak relevan lagi dengan zamannya, sehingga ia juga dapat disebut bukan seorang politikus.


________


Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy


Tarikh Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari



KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#kupastuntas13

#kupastuntas19

#kupastuntas22