#kupastuntas11
Perang Shiffin dan Tahkim Bagian 3
Penafsiran Perang Shiffin dan Peristiwa-Peristiwa Setelahnya Bagian 2
#kupastuntas11
Setelah kita sebutkan keadaan para pendamping Ali, maka sekarang bagaimana dengan para pendamping Muawiyah?
Orang-orang yang berada di samping Muawiyah adalah orang-orang berkuasa yang boleh melakukan apa saja. Kebanyakan Arab Badui yang tinggal di Syam adalah kaum yang sudah maju, mereka meniru kekuasaan seperti kekuasaan Romawi, kemudian Muawiyah tinggal di sana selama duapuluh tahun. Ia mengetahui mereka dan mereka juga mengetahui Muawiyah, ia mampu menguasai hati mereka dengan kecerdasannya dan kebijaksanaannya. Mereka sangat taat kepadanya sehingga ia dapat mempercayai mereka dengan penuh tidak khawatir apapun.
Dengan menggunakan orang-orang di sampingnya dan dengan kecerdasannya ia mampu memenangkan perundingan tahkim, ia membiarkan Ali kembali ke Kufah untuk menyusun kekuatan. Dengan demikian Muawiyah harus berusaha mengambil dan menguasai kota-kota lain seperti Mesir, Hijaz dan Yaman. Muawiyah sangat tepat dalam memanfaatkan kesempatan dengan didampingi Amru bin Al-Ash yang cerdik, ia lalu mengarahkan tujuannya ke Mesir karena sumber daya alam dan manusia sangat besar. Mesir walaupun masih dalam kekuasaan Ali akan tetapi Muawiyah mampu mengusiknya, Ali sebelumnya telah mengirim Muhammad bin Abu Hudzaifah untuk menjadi gubernur di Mesir, akan tetapi Muhammad terbunuh hingga Ali menggantinya dengan gubernur yang paling keras dan cakap yaitu Qais bin Sa'd bin Ubadah Al-Anshari. Muawiyah lalu berangkat ke Mesir dan mendapatkan negeri tersebut dalam kekacauan, ia mendapatkan ada kabilah Utsmaniah yang ikut mendukung terhadap pembunuhan Utsman, akan tetapi berkat kecerdasan Muawiyah, ia bisa menenangkan mereka dan tidak berbuat keras kepada mereka. Ketika Muawiyah sudah mendapatkan kepercayaan di Mesir setelah tahkim, maka tidak ada kesempatan lagi bagi Ali, lalu ketika Qais sudah mendekat ke Mesir, Muawiyah menjanjikan dengan janji-janji, akan tetapi Qais menolaknya, Muawiyah kemudian bermaksud menggerakkan Utsmaniyyin di Mesir untuk memberontak kepada Qais, Muawiyah tidak akan mampu mengusir Qais dari kedudukannya kecuali dengan mengatakan kepada para pendukungnya, "Qais adalah termasuk dari pasukan kami, ia bagian dari hati kami, akan tetapi ia berpura-pura kepada Ali." Ali pasti mempunyai mata-mata di tentara Muawiyah, dan Muawiyah mengetahui hak ini, ia mengatakan di depan mereka hal-hal yang ia ketahui tentang Qais terhadap para pendukungnya.
Setelah Ali mendengar hal ini maka ia menyuruh Qais untuk memerangi Utsmaniah, akan tetapi ia enggan dan merasa tidak ada mashlahat mengenai memerangi mereka, dan mengatakan bahwa hal itu dilakukan Ali karena ia tidak percaya dengannya, lalu ia dipecat dari kedudukannya dan mengirimkan gubernur lagi yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Hal inilah yang diinginkan Muawiyah, ketika Muhammad berusaha memerangi Utsmaniah maka tentara Amr bin Ash membantu Utsmaniah, sehingga Muhammad harus memerangi dua kubu yaitu tentara Muawiyah dan tentara Utsmaniah, maka cerai berailah pasukannya. Ia lalu menulis surat permintaan tolong kepada Ali, dan Ali setelah mengetahui hal ini kemudian mengutus Al-Asytar, seorang sosok yang kuat dan ditakuti keberaniannya, akan tetapi Muawiyah mengirim orang untuk menyesatkan jalannya, sehingga ia tidak sampai Mesir dan akhimya Muhammad tertangkap oleh tentara Amru dan dihukum mati.
Demikianlah Muawiyah menguasai Mesir dan mengutus utusan untuk menuju Hijaz dan Yaman hingga kedua negeri ini ikut dalam kekuasaannya. Diceritakan setelah tahkim ia mempersiapkan tentaranya dan mengirim ke Irak untuk memisahkan Ali dari para pendukungnya, hingga pada tahun 40 H iaberani menyatakan sebagai Khalifah di kota Iliya (Jerussalem) setelah sebelumnya menjadi gubernur (amir), dan sekarang gelarnya adalah Amirul Mukminin.
Sekarang Ali memang harus betul-betul memerangi Muawiyah, ia persiapkan tentara dengan komandan anaknya sendiri Hasan dan akan disusul dengan tentara lain. Akan tetapi sangat disayangkan pada waktu itu Ibnu Muljam Al-Khariji berhasil membunuhnya ketika ia berada di masjid dengan pedang beracun dan tusukan yang mematikan.
Walaupun Ali sudah tahu akhir hayatnya tetapi ia tetap mewasiatkan kepada anaknya untuk tidak memutilasi orang yang membunuhnya, dan supaya mereka menghukuminya sesuai syariat Islam. Ia memang sangat teguh memegang syariat hingga akhir hayatnya semoga Allah meridhainya.
Para pendukung Ali lalu bertanya kepada Ali, apakah harus membaiat Hasan, Ali mengatakan, "Aku tidak memerintahkan kamu dan tidak melarang kamu, dan kuserahkan perkara ini menjadi permusyawaratan di antara mereka."
______
Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al-'Isy
KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar
Posting Komentar