#kupastuntas08
Perselisihan Antara Ali dan Mu'awiyah
#kupastuntas08
Ali setelah menjabat sebagai khalifah lalu memecat Muawiyah yang menjadi gubernur Syam pada periode Umar dan Utsman. Akan tetapi Muawiyah enggan dipecat oleh Ali dan meminta diselesaikan kasus kematian Utsman terlebih dahulu. Ia kemudian mengalungkan baju Utsman di mimbar masjid Damaskus dan mengajak para pendukungnya untuk meminta diprosesnya kasus kematian Utsman. Bergejolaklah negeri Syam hingga orang-orang dari kabilah Kalb bersumpah untuk melaksanakan aksi balas dendam atas kematian Utsman. Bagi kita tidak penting memperhatikan peristiwa-peristiwa ini secara terperinci; yang terpenting bagi kita adalah menelusurinya secara mendalam, yaitu dengan mengetahui sumber dan argumentasi dari kedua belah pihak, serta mengetahui bagaimana tersebarnya fitnah ini dan faktor apa yang mempengaruhinya.
Semua teks teks yang menceritakan perselisihan antara Muawiyah dan Ali hampir sama isinya, dan hampir bersumber dari satu sumber saja, yaitu riwayat dari Abu Mikhnaf yang berfaham Syiah. Ia hidup pada permulaan abad kedua Hijriah, ia mengetahui peristiwa-peristiwa tersebut akan tetapi ada kecacatan dalam riwayatnya. Abu Mikhnaf menurut ahli Hadits termasuk orang yang lemah periwayatannya. Dalam kitab Lisanul Mizan karya Ibnu Hajar, disebutkan bahwa Luth bin Yahya (Abu Mikhnaf) adalah sejarawan yang lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan. Dan diriwayatkan dari para pakar ilmu hadits ia termasuk golongan orang-orang lemah.
Walaupun demikian kita terpaksa harus menerima kisah-kisahnya karena menyesuaikan dengan kaidah-kaidah sejarah, yaitu tidak mungkin menceritakan sejarah hanya berpegang pada hadits-hadits yang shahih saja, dan sesuai dengan syarat-syarat hadits shahih saja, karena para ulama hadits yang termasuk orang-orang shahih periwayatannya tidak terlalu memperhatikan masalah-masalah sejarah. Akan tetapi, kita tentu saja menolak riwayat yang jelas cacatnya, dan kita gunakan metodologi yang dapat mempermudah kita untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga kita dapat menerima riwayat-riwayat mereka dan membuang hal-hal yang saling bertentangan kenyataannya, hingga kita akan mampu menggapai sejarah yang hakiki.
Titik persoalan yang kita perhatikan secara khusus dalam perselisihan antara Ali dan Muawiyah adalah argumentasi dari masing-masing pihak untuk membenarkan sikap masing-masing. Dalil-dalil tersebut nampak pada waktu perundingan sebelum terjadinya pertumpahan darah, secara jelasnya sebagai berikut: Tentara Ali telah menyusuri sungai Eufrat dan menuju ke arah Barat laut dari Irak. Tentara ini akhirnya berhadapan dengan tentara Muawiyah, akan tetapi Ali ingin mengembalikan Muawiyah dari kekeliruannya dengan cara mengirim utusan untuk berdialog dengan Muawiyah. Dialog dari utusan ini ada dalam Tarikh Ath-thabari dari Abu Mikhnaf dalam bab peristiwa tahun 37 H. Yazid bin Qais yang menjadi salah satu utusan Ali berkata kepada Muawiyah, "Kami datang hanya untuk memberitahukan kepada kamu perihal apa yang kami bawa ini, dan kami ditugaskan untuk mendengarkan perkataan darimu, dan kami sampai saat ini masih menasehatimu, dan akan kami sampaikan hujjah kami kepadamu, supaya kamu kembali kepada persatuan dan jamaah. Sesungguhnya sahabat kami (Ali) adalah orang kemuliaannya telah engkau ketahui bersama dengan kaum muslimin, dan saya tidak berprasangka bahwa engkau sudah tahu bahwa orang yang ahli agama tidak akan memisahkan antara engkau dan Ali, maka takutlah kepada Allah, wahai Muawiyah!
Dan janganlah engkau menyelisihi Ali! Demi Allah, kami tidak melihat seorang pun lebih bertakwa, lebih zuhud dan lebih baik daripada Ali." Lalu Muawiyah memuji kepada Allah dan berkata, "Engkau sekalian telah mengajak kami kepada ketaatan dan jamaah, bagaimana taat yang engkau maksudkan, sedangkan taat kepada sahabat kalian itu hal yang tidak mungkin, karena sahabat kalian telah membunuh khalifah kami, dan mencerai-beraikan jamaah kami, serta melindungi para pembunuh kami. Saudara kalian tidak mengakui telah membunuhnya dan kami tidak bisa menerima hal ini. Apakah engkau tidak tahu orang-orang yang membunuh sahabat kami? Bukankah mereka termasuk sahabat-sahabat dari sahabat kalian? Maka serahkanlah mereka yang telah bersekutu membunuh Utsman untuk kami bunuh setelah itu kami akan taat kepada kalian, mendengar hal ini Syabts bin Rib'i mengatakan, 'Apakah engkau, wahai Muawiyah, mampu membunuh Ammar?" Ia menjawab, "Kenapa tidak? Demi Allah, jika saya dapat membunuh Ammar maka belum cukup untuk menebus darah Utsman tetapi cukuplah untuk menebus darah Nailyang menjadi budak Utsman saja."
Kami melihat bahwa teks ini telah menunjukkan argumentasi kedua belah pihak. Argumentasi Ali berdasarkan bahwa dialah pemimpin yang harus ditaati, dan orang-orang muslim tidak menyamakan antara Ali dan Muawiyah. Ali lah yang menjadi pilihan mereka sehingga wajib bagi Muawiyah untuk membaiatnya.
Sedangkan argumen dari Muawiyah adalah bahwa walaupun Ali tidak ikut membunuh Utsman, akan tetapi ia telah melindungi pembunuh Utsman, dan Muawiyah tidak rela kecuali dengan menyerahkan para pembunuh Utsman.
Dalam teks lain disebutkan bahwa Muawiyah telah mengirim utusan kepada Ali guna meminta diserahkannya para pembunuh Utsman dan supaya Ali meninggalkan diri dari urusan umum, supaya masyarakat bermusyawarah di antara mereka sendiri, Ali berkata kepada utusan Muawiyah tersebut-Habib bin Maslamah Al-Fihri, "Apa urusan kamu dengan pengunduran diri kami, diamlah karena engkau bukan ahlinya."
Ketika Ali diminta mengundurkan diri, ia berkata, "Orang-orang telah mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah, mereka berdua telah berbuat baik dan adil dalam mengurusi umat. Mereka berdua juga menjadi pemimpin kami yang termasuk sebagai keluarga baginda Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, kami pun tidak keberatan dengan mereka, kemudian diangkatlah Utsman hingga melakukan hal-hal yang dicemooh oleh orang-orang, hingga mereka kemudian menemui dan membunuhnya. Kemudian mereka menemuiku untuk dibaiat sedangkan saya sudah melepaskan diri dari urusan mereka, mereka mengatakan, "Naiklah menjadi pemimpin!" Namun saya menolak mereka, hingga mereka merayuku berulang kali dan mengatakan, "Naiklah, karena masyarakat tidak rela kecuali dengan kepemimpinanmu, dan kami takut jika engkau tidak mengambilnya maka masyarakat akan cerai berai." Saya akhirnya menerima tawaran tersebut, dan saya memimpin hanya bersandar pada satu kaki saja.
Perselisihan Muawiyah tidak pernah ada dalam agama, baik secara individu maupun golongan. Allah dan Rasul-Nya bersama-sama kaum muslimin masih memusuhi Muawiyah dan ayahnya hingga mereka masuk Islam karena terpaka, dan tidak ada alasan bagi kamu untuk loyal kepadanya dan meninggalkan keluarga Nabi kamu yang tidak menginginkan perselisihan maupun persengketaan. Ketahuilah bahwa kami mengajak kamu kepada kitab Allah Subhanahu Wata'ala dan sunnah Rasul-Nya, serta membunuh kebatilan dan meng-hidupkan syiar-syiar agama. Hanya inilah yang dapat saya katakan dan saya memintakan ampun kepada Allah untukku dan unfuk kalian semua dan bagi setiap orang mukmin dan muslim baik laki-laki maupun perempuan." Lalu utusan Muawiyah bertanya, 'Apakah engkau bersaksi bahwa Utsman terbunuh karena dizhalimi?" Ali menjawab, 'Tidak, ia tidak dibunuh secara zhalim dan tidak pula berbuat zhalim." Keduanya (utusan Mu'awiyah) lalu berkata, "Barangsiapa menganggap bahwa ia tidak terbunuh karena terzhalimi maka kami tidak bertanggung jawab terhadapnya di hadirat Allah." Kemudian mereka berdiri dan pergi meninggalkan tempat.
Dari teks ini terlihat upaya bersikap keras terhadap Muawiyah, mungkin hal ini hasil dari nukilan Abu Mikhnaf. Secara lahiriah kelompok Muawiyah menginginkan adanya penetapan bahwa Utsman dibunuh secara zhalim sehingga harus ditebus darahnya. Sedangkan Ali menurut teks ini menetapkan bahwa ialah yang berhak menjadi Khalifah tanpa ada yang menentangnya, dan membiarkan para pembunuh Utsman urusannya diserahkan kepada Allah.
Sikap Ali yang diriwayatkan oleh teks ini berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh Saif. Dalam riwayat Saif disebutkan bahwa Ali menginginkan para pembunuh Utsman dibunuh satu per satu, dengan demikian kami melihat riwayat Abu Mikhnaf tidak sesuai dengan riwayat Saif. Dengan demikian kita tidak perlu menjadikan riwayatnya sebagai pegangan, dan cukup menggunakan riwayat Saif dalam kasus terbunuh Utsman.
Kami melihat hujjah pendukung Muawiyah lebih jelas, sebagaimana tercantum dalam dialog pertemuan dua delegasi antara Abu Musa dan Amru bin Al-Ash. Amru bin Ash berkata kepada Abu Musa, "Wahai Abu Musa, apakah engkau mengetahui bahwa Utsman dibunuh secara zhalim?" Ia menjawab, "Ya." Amru berkata lagi, "Tahukah engkau bahwa Muawiyah dan keluarganya adalah wali Utsman?" Ia menjawab' "Ya." Amru bin Ash lalu membacakan ayat yang artinya : "Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim maka kami jadikan walinya sebagai kekuasaan tetapi janganlah ia melampui batas dalam membunuh, sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan." (QS Al-Isra' : 33) .
Hujjah ini lebih kuat dan lebih jelas daripada sebelumnya, Muawiyah berhak meminta tebusan darah Utsman karena ia adalah ahli warisnya. Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Syam sangat puas dengan hujjah ini sehingga menjadikan hal itu sebagai hujjah mereka. Imam Al-Ghazalill juga menulis tentang hujjah Muawiyah untuk meminta tebusan darah Utsman dengan secepatnya, dengan mengatakan, "Muawiyah menganggap bahwa perkara Utsman kalau diakhirkan maka akan terjadi tindak pidana yang lebih besar lagi karena akan membuat umat bertindak yang tidak bertanggung-jawab kepada pemimpin-pemimpin mereka dan akan membuat mereka berani menumpahkan darah." Al-Ghazali menyatakan bahwa Muawiyah tidak berniat untuk merebut kekuasaan dari Ali. Ia menyatakan, "Apa yang terjadi antara Ali dan Muawiyah berdasarkan pada ijtihad dan bukannya usaha Muawiyah untuk merebut kekuasaan." Abu Ya'la Al-Farra' menakwilkan sikap Muawiyah dan menulis sebuah buku yang berjudul, Kitab Fihi Tanzih Khal Al-Mu'minin Mu'awiyah bin Abi Sufyan min Azh-Zhulm wa Al-Fisq fi Muthalabatihi Bi Dami Amiril Mu'minin 'Utsman (Buku pembersihan Muawiyah bin Abu Sufyan dari tuduhan kezhaliman, kefasikan dalam meminta tebusan terhadap darah Amirul Mukminin Utsman).
________
Dinasti Umawiyah, Dr. Yusuf Al 'Isy
Ihya' 'Ulumuddin, Imam Al-Ghazali
KUPASTUNTASSEJARAHISLAM

Komentar
Posting Komentar