#kupastuntas06
Menilik Hubungan Turki Utsmani dengan Nusantara dan Wilayah di Sekitar Samudra Hindia
#kupastuntas06
Di tengah-tengah kemegahan kuasa Sultan Suleiman I, perhatian Turki Utsmani terhadap wilayah perairan Samudra Hindia dan kota-kota di sekitarnya mulai tumbuh. Pada saat yang sama muncul pula kelompok "Faksi Samudra Hindia" sebagai respon dari kebijakan-kebijakan Perdana Menteri Rustem Pasha (1544-1553 dan 1555-1561) yang menolak untuk memberikan perhatiannya terhadap Samudra Hindia. Perdana Menteri pendahulunya, Hadim Suleiman Pasha (1541-1544) sebetulnya telah memberikan cukup perhatian terhadap Samudra Hindia, tetapi Rustem Pasha--sebagai pengganti sekaligus rival politiknya--merasa harus mengambil kebijakan yang berlawanan darinya.
Meskipun demikian, Faksi Samudra Hindia tetap bersikeras mengupayakan agar Turki Utsmani mengalihkan perhatiannya ke Samudra Hindia. Akhirnya, mereka mendapatkan angin segar dengan naiknya Semiz Ali Pasha (1561-1566) menduduki jabatan Perdana Menteri, menggantikan Rustem Pasha, pada tahun 1561. Walupun jabatannya sangat singkat--hanya lima tahun--Semiz Ali Pasha telah memperbaiki hubungan perekonomian dengan Samudra Hindia. Dia melakukan pendekatan yang berlawanan dengan Rustem Pasha dalam hal Samudra Hindia. Pendekatan perbatasan terbuka dia jalankan dengan baik untuk memaksimalkan perdagangan maritim melalui Laut Merah dan Teluk Persia.
Dalam persolan ekonomi, Semiz Ali Pasha telah memenuhi harapan Faksi Samudra Hindia. Namun, tidak demikian dalam hal politik. Dia meyakini langkah diplomasinya dengan Portugis--yang saat itu menguasai perairan Samudra Hindia--adalah langkah yang tepat. Dalam hal ini, dia menjalankan kebijakan politik luar negeri yang lunak dengan Portugis. Lebih jauh dari itu, untuk menjalin perjanjian perdagangan dengan Portugis, dia meyakinkan Portugis bahwa tidak ada ancaman militer dari Turki Utsmani. Karena itu, di tahun-tahun masa jabatannya, Semiz Ali Pasha telah memerintahkan Sefer Reis untuk mundur dari Mocha, menganggukkan pemberantasan bajak laut di Arab dalam waktu yang tidak terbatas, dan menunda penyiapan armada baru Sefer Reis di Suez. Kebijakan-kebijakan Semiz Ali Pasha ini telah menimbulkan kekecewaan di pihak Faksi Samudra Hindia sehingga lambat laun mereka meninggalkannya. Padahal, sebelumnya Faksi Samudra Hindia telah menaruh harapan besar kepada Semiz Ali Pasha, bahwa dia bisa menjadi antitesis dari kebijakan-kebijakan Rustem Pasha yang apatis terhadap persoalan-persoalan Samudra Hindia.
Harapan Faksi Samudra Hindia kembali hadir dengan munculnya Sokollu Mehmed Pasha sebagai Perdana Menteri menggantikan Semiz Ali Pasha yang meninggal dunia pada tahun 1565. Perdana Menteri yang baru ini adalah orang yang cakap, bahkan menjadi Perdana Menteri paling bersinar di sepanjang abad ke-16. Hubungannya dengan keluarga Kerajaan Turki Utsmani dan perjalanan kariernya sebelum menjadi Perdana Menteri, membuatnya layak untuk menjadi pemimpin baru Faksi Samudra Hindia. Secara personal, dia memang memiliki dua aset penting di dalam dirinya, yaitu kekuatan intelektual dan rasa penasaran dengan dunia.
Sebelumnya Sokollu Mehmed Pasha pernah menjabat sebagai grand admiral dari angkatan laut Turki Utsmani sejak akhir tahun 1540, kemudian menjadi Gubernur Jenderal di Provinsi Diyarbakir. Pengalaman-pengalaman inilah yang menyebabkan Sokollu Mehmed Pasha memiliki pengetahuan yang memadai mengenai perairan Samudra Hindia. Di masa dua jabatannya itu, dia telah bekerja cukup banyak untuk Turki Utsmani.
Pengetahuannya terhadap dunia secara global disertai pemahamannya tentang dinamika dan nilai strategis Samudra Hindia menyebabkan Sokollu Mehmed Pasha memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perairan Samudra Hindia dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Dia juga telah banyak mendapatkan informasi tentang situasi wilayah-wilayah di Samudra Hindia dari Seydi Ali Reis yang telah melakukan perjalanan hingga ke Gujarat, kaum muslimin di sana, menunjukkan sikap yang loyal dan patuh (devotion and obedience) terhadap Turki Utsmani.
Pandangan dan keberpihakannya terhadap Faksi Samudra Hindia menyebabkan ia harus berhadapan langsung dengan Semiz Ali Pasha secara diametral. Perannya sebagai arsitek dari sebuah perubahan dramatis kebijakan-kebijakan Turki Utsmani baru dimulai setelah kematian Semiz Ali Pasha, yang kedudukannya dia gantikan sebagai Perdana Menteri. Namun, sebelum menjabat Perdana Menteri, dia--bahkan--telah mampu meletakkan landasan untuk sebuah era baru hubungan Tuki Utsmani dengan Samudra Hindia, yaitu ketika dia masih menjadi anggota aktif Dewan Istana.
Di saat perbincangan tentang Samudra Hindia sedang menghangat--atau bahkan memuncak--di Turki Utsmani, pada saat yang sama negeri-negeri di Samudra Hindia telah meletakkan harapannya yang sangat besar kepada Turki Utsmani untuk menjadi sekutu sekaligus "tuan" dalam mengahadapi Portugis di perairan Samudra Hindia. Setidaknya, hal ini tampak permintaan bantuan oleh penguasa dari dataran tinggi Deccan (Nizhamul Mulk Ahmadnegar) dan penguasa Aceh (Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahhar).
Ketika utusan Aceh sampai di Istanbul pada tahun 1562, jabatan Perdana Menteri masih dipegang oleh Semiz Ali Pasha yang tetap bersikukuh menjalin hubungan diplomasi dengan Portugis. Oleh sebab itu, pada awalnya dia menolak semua permohonan Sultan Aceh dan meminta agar sang utusan segera meninggalkan Istanbul. Namun, berkat desakan Sokollu Mehmed Pasha yang saat itu menjadi Dewan Istana, akhirnya Semiz Ali Pasha menyetujuinya untuk mengirimkan sepuluh ahli artileri ke Aceh.
Para ahli itu ditugaskan untuk mengajari pasukan Aceh cara-cara pembuatan meriam dari bahan-bahan lokal yang tersedia. Di samping itu, Sokollu Mehmed Pasha juga mengirimkan seorang utusan bernama Luthfi sebagai pengawal perjalanan menuju Aceh yang jauh dan penuh bahaya. Sokollu juga memberinya perintah untuk melakukan kontak dengan seluruh Muslim di Samudra Hindia dan menghasut mereka untuk melakukan pemberontakan bersenjata terhadap Portugis.
Inilah situasi Turki Utsmani di masa puncak kejayaannya. Wibawa dan kuasanya diakui, baik oleh kalangan musuh maupun umat Islam di berbagai belahan dunia. Situasi ini masih terus berlangsung, setidaknya hingga akhir jabatan Sokollu Mehmed Pasha sebagai Perdana Menteri pada tahun 1579. Dia tetap menjadi Perdana Menteri pada masa periode pemerintahan dua sultan setelah setelah Sultan Suleiman I, yaitu Sultan Selim II dan Sultan Murad III. Dengan pengalamannya yang panjang sebagai penjabat dan Perdana Menteri dalam pemerintahan--disertai dengan kecerdasan dan kecekatan--Sokollu Mehmed Pasha mampu mengendalikan situasi istana dalam kondisi tetap stabil meskipun Sultan Selim II dan Sultan Murad III yang menggantikan Sultan Suleiman I tidak setangguh pendahulunya itu.
____________________
Jejak Kekhalifahan Turki Utsmani di Nusantara, Deden A. Herdiansyah
kupastuntassejarahislam
