#kupastuntas03


Teka Teki Kematian Utsman r.a.


#kupastuntas03


Ketika segala kritik telah terhambur kepada Utsman, datanglah orang dari Mesir, Kufah, dan Basrah. Ketiga negeri itu berlainan kehendak dan nafsunya. Orang dari Basrah hendak menurunkan Utsman dan menggantikannya dengan Thalhah, orang dari Kufah hendak menggantikannya dengan Zubair, dan orang dari Mesir hendak menggantikannya dengan Ali. Orang yang datang dari Basrah pergi ke rumah Thalhah, orang dari Kufah pergi ke rumah Zubair, dan orang yang dari Mesir pergi ke rumah Ali. Ketiga golongan itu menawarkan pangkat Khalifah kepada diri masing-masing orang yang mereka sukai. Namun, ketiganya sama menolak dengan sikap yang hormat dan aman. Merkea tidak bermaksud hendak meruntuhkan khalifah, tetapi hanya sepemikiran hendak memperbaiki perbuatan-perbuatan yang dipandang salah.


Orang Mesir meminta agar wali di Mesir yang diangkat oleh Utsman diturunkan dari pangkatnya dan diganti dengan Muhammad Ibnu Abu Bakar. Permintaan itu telah dikabulkan dan mereka disuruh pulang kembali ke negeri Mesir. Namun, setelah sampai pada suatu tempat yang berjarak tiga hari perjalanan dari Madinah, terlihat dari jauh seorang budak hitam mengendarai unta. Orang itu terus ditahan dan ditanyai kemana ia hendak pergi dan siapa yang menyuruhnya. Sebab ia sangat mencurigakan serupa orang yang sedang dikejar atau sedang mengejar. Budak itu menjawab bahwa ia budak Amirul Mu'minin yang disuruh mengantarkan sepucuk surat ke Mesir. Tentara Muhammad Ibnu Abu Bakar itu menjadi syak, kantong surat itu terus dirampas. Kiranya surat itu dari Utsman kepada Abdullah ibnu Sarah, wali di Mesir. Sampul surat itu terus dibuka di hadapan Muhajirin dan Anshar, kiranya setelah dibaca kedapatan isinya, "Bilamana sampai Muhammad ibnu Abu Bakar di Mesir bersama si Fulan dan si Fulan hendaklah segera dibunuh, dan isi surat yang mereka bawa hendaklah dibatalkan, dan hendaklah terus memegang pangkat itu sehingga sampai perintahku yang sah."


Melihat isi surat yang sangat berbahaya itu, semuanya naik pitam karena marah, dan semua memutuskan bahwa mereka mesti kembali ke Madinah, mereka minta bertemu berhadap-hadapan dengan Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa'ad. Dihadapan mereka itulah, surat dibuka kembali dan diceritakan kisah penangkapan budak hitam itu seterang-terangnya. Setelah tersiar kabar ini kepada banyak orang, semuanya mengumpat, mencerca dan memaki Utsman. Ia dituduh seorang khalifah yang pengecut. Sahabat-sahabat utama Nabi SAW melihat huru-hara ini. Namun, karena tidak dapat didamaikan lagi, mereka pun kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan bingung.


Rumah Ustman telah dikepung orang dari kiri-kanan, bahkan air tidak boleh dimasukkan kerumahnya lagi, dan ia pun dilarang keluar. pada waktu itu, dengan sedih terdengar perkataan sayyidina Utsman, "Mengapa kamu menahan air dari orang yang telah membeli sumur Raumah?"


Kemudian surat itu mereka bawa pada Utsman seraya berkata, "Engkau telah menulis surat begini untuk membinasakan kami?" Pada waktu itu sayyidina Utsman menjawab, "Kamu boleh memilih salah satu diantara dua, pertama kalau kamu tidak percaya, kamu kirim dua utusan untuk menyelidiki.kedua,kamu terima sumpahku dihadapan Allah bahwa sungguh-sungguh bukanlah aku yang menulis surat itu."


Dengan sumpah besar Utsman telah menyatakan bahwa surat itu bukan ia yang menulis, walaupun disana terdapat cap cincinnya sendiri. Pengakuan itu harus dipercayai sebab selama ini memang ia terkenal seorang yang cukup bertanggungjawab atas perbuatannya. Orang yang selalu menjadi desas-desus tarikh dalam perkara ini ialah juru suratnya sendiri, Marwan Ibnu Hakam, tetapi bukti pun tidak nyata pula sehingga sampai kiamat riwayat itu akan tetap begitu keadaannya, tertinggal gelap. Hanya yang nyata disana memang Utsman lemah sehingga laci mejanya sendiri dapat dibuka orang dan cincinnya dapat dicapkan orang tanpa sepengetahuannya, dan ia terpaksa bertanggungjawab atas kejadian yang mengharukan hati itu.


Pemberontakan-pemberontakan itu bertambah panas, sebagian besar meminta agar ia meninggalkan saja pangkat khalifah itu dari dirinya, tetapi ia tidak mau. Utsman tidak mau menanggalkan pangkat yang telah diletakkan Allah diatas pundaknya, dan disetujui oleh seluruh muslimin dengan baiat. Sampai nyawa bercerai dengan badan, pangkat itu tidak akan diserahkannya ke tangan orang lain.


Desakan dan kepungan bertambah hebat dan sempit. Segala nasihat yang diberikannya dari atas suluh rumahnya kebawah, kepada orang-orang yang berkumpul dengan hati panas itu, tidak ada yang mempan lagi. Apalagi, setelah terdengar berita dan desas-desus bahwa beberapa tentara dari luar Madinah, terutama dari Syam akan datang mengepung kota Madinah dan melepaskan Utsman dari kepungan itu. Sahabat-sahabat besar, yaitu Ali, Thalhah, dan Zubair menyuruh anak-anak mereka masing-masing pergi menjaga khalifah dirumahnya, menunggu angin selesai. Jangan sampai terjadi bahaya yang lebih besar. Namun, pengepungan pemberontak itu sudah bertambah kalap, rumah disamping rumah Utsman (rumah tetangganya) telah mereka naiki. Pintu rumah mereka bakar, mereka masuk ke dalam berduyun-duyun dengan sorak-sorai.


Anak-anak dari orang-orang besar Madinah disingkirkan ke tepi. Seorang penjahat bernama Al-Ghafiqi telah menikam orang tua yang telah ikut menegakkan riwayat Islam itu dengan khanjarnya sehingga jari istri Utsman, Nailah,yang hendak membelanya mereka potong juga. Setelah itu, mereka menarik janggut Utsman dan mereka memotong lehernya sehingga wafatlah Utsman, sedangkan Al-Qur'an (mushaf Utsman) masih tergenggam pada tangannya.


Riwayat yang gelap ini terjadi pada tahun 35 H setelah 11 tahun lamanya Utsman memerintah. Ia menutup mata pada usia 81 tahun.

___________________


Sejarah Umat Islam, Prof. DR. Hamka


kupastuntassejarahislam

Postingan populer dari blog ini

#kupastuntas13

#kupastuntas19

#kupastuntas22